SELAMAT DATANG DI BLOG IMAMEDU.
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2011

BAHAYA: Humanisme, Pluralisme, Demokrasi !!!

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saudaraku, perjuangan rasanya tidak mengenal kata akhir, setiap waktu setiap masa, kita terus berhadapan dengan berbagai masalah. Ummat ini harus dipedulikan, dijaga, dihargai, diperjuangkan hak-haknya, dengan sekuat kemampuan yang kita miliki. Belum juga tuntas masalah Bank Century, kita sudah menghadapi masalah baru, “Gerakan Pemujaan Abdurrahman Wahid”. Kalau Bank Century berkaitan dengan harta benda, maka dalam masalah Gus Dur ini masalah AKIDAH. Ingat akidah, ini masalah terbesar Ummat ini!!!

Banyak orang mengelu-elukan Gus Dur sebagai tokoh: HUMANISME, PLURALISME, dan DEMOKRASI. Media-media massa sangat giat mencuci otak masyarakat dengan pujian-pujian berlebihan dalam 3 persoalan itu. Sampai 9 Fraksi DPR, termasuk partai-partai Islam, menyokong usulan agar Gus Dur diangkat menjadi pahlawan nasional.

Ini sangat bahaya, sangat berbahaya. Kalau sampai Pemerintah mengabulkan tuntutan anggota DPR itu, alamat bangsa kita akan diadzab oleh Allah dengan bencana-bencana memilukan di masa ke depan. Mengapa? Untuk tokoh yang penuh permusuhan kepada Islam, menghina Al Qur’an, pembela JIL, pro Israel, dll. itu ingin ditasbihkan sebagai “pahlawan nasional”. Sedangkan almarhum Buya Natsir, mantan Ketua DDII, yang jelas-jelas jasa-jasanya diakui Dunia Islam, sampai beliau mendapatkan Faishal Award dari Kerajaan Saudi, sampai wafatnya tidak pernah diakui sebagai pahlawan nasional. Baru beberapa waktu lalu, status kepahlawanan beliau diakui.

Begitu pula, almarhum Syafruddin Prawiranegara yang menjadi Gubernur BI pertama, pernah menyelamatkan Indonesia dengan menjadi Presiden Pemerintahan RI Darurat (PDRI), beliau sampai saat ini belum juga diakui sebagai pahlawan nasional. Jasa beliau besar, tapi tidak diakui oleh negara ini.

Saya yakin, jika Gus Dur sukses diangkat sebagai pahlawan nasional, itu artinya: Kita telah mengangkat manusia yang dimurkai Allah sebagai tokoh pujaan, idola nasional. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ini sama saja dengan menghalalkan kehancuran, bencana, dan segala siksaan atas bangsa ini.

Ya, kalau Anda tidak percaya, lalukan saja apa yang Anda inginkan! Mari kita lihat akibatnya nanti! Saya hanya mengingatkan, sebagaimana waktu mengingatkan agar masyarakat jangan memilih SBY-Boed. Kalau kelak Anda hidup menderita, maka jangan salahkan, selain diri sendiri.

Saudaraku… Gus Dur banyak dipuji-puji sebagai tokoh Humanisme, Pluralisme, Demokrasi. Sebenarnya istilah-istilah itu apa maksudnya? Apa maknanya, dan bagaimana konsekuensinya? Disini kita akan bahas tentang bahasa besar di balik kampanye slogan Humanisme, Pluralisme, Demokrasi.

KADAR PRAKTIS-FILOSOFIS

Secara sederhana humanisme bisa diartikan sebagai kemanusiaan, pluralisme sebagai paham keragaman, dan demokrasi sebagai “penentuan keputusan dengan suara terbanyak”.

Ketika bicara tentang isu Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, bisa dalam dua tataran. Pertama, tataran praktis, yaitu manfaat dari humanisme, pluralisme, demokrasi bagi kehidupan masyarakat. Kedua, dalam tataran filosofis, yaitu makna terdalam dari humanisme, pluralisme, demokrasi, serta pengaruhnya yang bersifat fundamental bagi keyakinan (ideologi) manusia.

Dalam tataran praktis, humanisme diamalkan misalnya dengan menyayangi orang sakit, memberi sedekah pengemis, menolong anak kecil yang jatuh, memberi bantuan sosial, mengirim Prita dengan koin-koin, menolong korban bencana alam, dsb. Jadi, tidak masalah disini, secara praktis.

Pluralisme secara praktis bisa diterjemahkan sebagai, menghargai perbedaan pendapat, mengakui keragaman potensi, kemampuan, mengakui perbedaan adat-kebiasaan, mengakui perbedaan perilaku hidup, dan lain-lain. Demokrasi diterjemahkan secara praktis, misalnya berunding dengan orang lain, bermusyawarah, melakukan undian penentuan sikap, pemilihan ketua kelompok, dan lain-lain.

Dalam tataran praktis, ya kita bisa memahaminya. Bahkan kita kerap memanfaatkan fungsi-fungsi humanitas, pluralitas, dan demokrasi itu. Ajaran Islam sangat mengakui tentang sikap tarhim (penyayang), fungsi syura (musyawarah untuk muakat), dan menghargai perbedaan pendapat fiqih (khilafiyyah).

Tetapi ketika paham Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dibawa ke tataran ideologis, konsep pemikiran, corak keyakinan, kita akan menyaksikan betapa bahayanya konsep Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu. Amat sangat berbahaya. Bahkan saya yakin, Anda tidak melihatnya sedemian serius masalah in.

Konsep Humanisme-Pluralisme-Demokrasi adalah merupakan ajaran agama tersendiri. Bahkan ia sangat agressif dalam menyirnakan peranan agama-agama tradisional, termasuk Islam di dalamnya. Kalau seseorang benar-benar tahu, ada apa di balik Slogan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, niscaya dia benar-benar akan melakukan TAUBAT NASHUHA. Sungguh, paham Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu sangat membahayakan semua agama, terutama Islam.

BAHAYA HUMANISME

Islam jelas-jelas mengajarkan sikap pengasih, penyayang, bahkan sekalipun kepada binatang. Nabi Saw mengatakan, “Irhamu man fil ardhi, yarhamukum man fis sama’i” (kasihi siapa yang ada di bumi, maka akan mengasihimu siapa yang ada di langit.”

Tetapi ideologi Humanisme itu berbeda. Ia bukan sifat-sifat pengasih, penyayang, seperti yang diajarkan Islam. Namun ia adalah suatu keyakinan untuk menjadikan manusia sebagai tujuan tertinggi kehidupan ini. Bukan matahari, bulan, batu, pohon, atau kuburan yang disembah-sembah disini, tetapi yang disembah adalah human interest (kepentingan manusia) itu sendiri. Humanisme itu suatu paham untuk mengagung-agungkan kepentingan manusia, mengalahkan kepentingan apapun yang lain.

Aplikasi dari paham ini, segala apa yang merugikan kebebasan, kepentingan, selera manusia, harus ditolak jauh-jauh. Termasuk hak Allah untuk mencampuri urusan manusia, juga harus ditolak. Maka Anda saksikan, para penganut humanisme sejati, mereka tidak mau menghukum anak-anaknya, memberi kebebasan penuh kepada anak-anaknya, sekalipun untuk memilih agama, memilih tindakan seks, memilih transaksi bisnis, dsb.

Apapun yang menjerat kebebasan manusia, termasuk aturan-aturan agama, harus disingkirkan sejauh-jauhnya. Inilah ideologi asli kaum Humanis. Maka dalam Al Qur’an dikatakan, “Afa ra’aita manit takhadza ilahahu hawaha” (apakah engkau Muhammad tahu, siapa yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya). Ini benar-benar nyata, dan disebutkan demikian dalam Al Qur’an.

Sri Mulyani dalam dialog dengan Wimar Witoelar di MetroTV pernah mengatakan, setelah dia pulang dari studi di Amerika, kurang-lebih dia mengatakan, “Kemudian saya kembali ke Indonesia, kemudian menemukan suatu kehidupan yang concern utama-nya adalah manusia itu sendiri.” Ucapan Sri Mulyani ini adalah contoh bagus pemikiran seorang Humanis.

Orang-orang Humanis akan sangat banyak mengecam aturan-aturan Islam. Jangankan aturan hudud, aturan memerintahkan anak-anak shalat saja mereka tentang habis-habisan. Sebab memang concern utama mereka adalah menjadikan hawa nafsu itu sebagai sesembahan.

BAHAYA PLURALISME

Tidak kalah bahayanya adalah ideologi Pluralisme. Allahu Akbar, ini benar-benar ideologi yang amat sangat menghujat ajaran Islam. Konsep pemikirannya seolah baik, tetapi sejatinya amat sangat merusak.

Pluralisme adalah ideologi yang meyakini kebenaran majemuk (plural). Mereka itu bukan sekedar mengakui ada banyak agama di dunia ini, lebih dari itu mereka meyakini, bahwa: kebenaran itu tidak tunggal, tapi majemuk. Dengan keyakinan ini mereka mengakui bahwa semua ideologi di dunia bisa diterima sebagai kebenaran, sesuai sudut pandang masing-masing.

Kalau kita katakan, 1 + 1 = 2. Maka orang pluralis, akan mengatakan: “Relatif. Bisa 2, 3, 7, 10, bahkan tak terhingga. Tergantung dari sudut mana memandangnya.” Maka antara pemikiran PLURALISME dan RELATIVISME adalah dua saudara kembar yang saling mencintai satu sama lain.

Di mata kaum Pluralis, mereka biasa mengatakan, “Islam itu benar, menurut orang Islam. Tetapi Kristen juga benar, menurut orang Kristen. Begitu pula, orang Yahudi, Hindu, Budha, Tao, Kong Fu Tse, Sinto, Pagan Mesir, Pagan Quraisy Makkah, Majusi, dsb. mereka benar sesuai pandangan masing-masing.” Yang paling parah, mereka meyakini, bahwa syurga itu diperuntukkan bagi siapa saja, dari keyakinan apapun, termasuk atheis, selama mereka hidup di dunia sebagai orang yang bak, tidak mengganggu orang lain.

Jadi, Pluralisme ini pada dasarnya adalah KEKAFIRAN lain, setara dengan kekafiran-kekafiran di luar Islam lainnya. Bahkan, Pluralisme adalah mbah-nya kekafiran.

Coba Anda renungkan: Paham semua konsep ideologi adalah benar, sesuai pandangan masing-masing pemeluknya. Hal ini kan sama saja dengan MENGHALALKAN segala bentuk kekafiran. Kekafiran Fir’aun, musyrikin Quraisy, Rumawi, Persia, dan sebagainya dianggap tidak ada. Masya Allah, ini adalah KEKAFIRAN sekafir-kafirnya, karena memandang di dunia ini tidak ada kebathilan, semua dianggap benar dan boleh.

Tapi lucunya, kaum Pluralis itu amat sangat marah dengan kaum Mukminin. Katanya, mereka mengakui kebenaran semua keyakinan, termasuk Islam, tetapi mereka marah ketika melihat Ummat Islam meyakini agamanya dengan sangat konsisten. Mereka bisa menerima keyakinan apapun lainnya yang dipeluk para penganutnya secara konsisten, tetapi mereka amat marah ketika melihat Ummat Islam konsisten dengan agamanya. Ini menandakan, bahwa tujuan utama kaum pluralis adalah: Memerangi Islam itu sendiri!!!

Bayangkan, bagaimana kita tidak akan mengkafirkan kaum Pluralis, wong semua penganut agama di dunia, termasuk kaum-kaum yang diadzab oleh Allah di masa Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth, Syuaib, Fir’aun, Abu Jahal, dsb sebagai orang yang benar. “Mereka adalah benar, sesuai pandangan mereka,” begitu logika kaum Pluralis.

Sebenarnya, pandangan Pluralisme itu adalah pandangan MANUSIA PALING DUNGU di dunia, paling dungu sejak jaman Nabi Adam As, sampai jaman Hari Kiamat nanti. Mengapa dikatakan demikian? Sebab mereka meyakini bahwa semua keyakinan adalah benar. Padahal antar keyakinan itu sendiri saling bertabrakan satu sama lain. Misalnya, kaum Yahudi menganggap dirinya sebagai kaum terpilih; kaum Nashrani menganggap Yahudi sebagai domba-domba yang sesat dari kalangan Bani Israil; sementara Ummat Islam meyakini Yahudi sebagai manusia terkutuk.

Begitu pula, Hindu menganggap sapi sebagai hewan suci, Islam menganggap sapi sebagai hewan ternak, para penyayang binatang membenci manusia yang membunuh binatang, sedangkan para Biksu Budha tidak makan daging, hidup sebagai vegetarian.

Lihatlah, antar keyakinan itu saling bertabrakan satu sama lain, mungkinkah semuanya dianggap benar? Masya Allah, betapa dungu sedungu-dungunya kaum Pluralis itu. Nanti, kalau ada seseorang yang tiba-tiba melempar batu ke arah penganut Pluralis itu, si pelempar bisa berargumen, “Melempar batu ke jidat Anda adalah kebenaran, dari sudut pandangan saya. Jadi mohon jangan salahkan ya!”

BAHAYA DEMOKRASI

Sebenarnya, masalah ini sudah sering dibahas di berbagai kesempatan. Saya hanya mengulang sedikit saja. Ideologi demokrasi adalah kekufuran juga. Mengapa? Paham ini meyakini sebuah prinsip, vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Artinya, peranan Tuhan dalam segala levelnya bisa diamputasi, diganti keputusan-keputusan yang diputuskan oleh manusia sendiri.

Peranan Allah Ta’ala dalam segala masalah bisa diamputasi, diganti segala putusan yang diperoleh melalui mekanisme demokrasi itu sendiri. Ini adalah ideologi kekafiran juga. Padahal sifat ajaran Islam adalah mengikuti petunjuk, bukan membuat petunjuk sendiri, atau trial and error.

Seseorang disebut MUSLIM karena dia melakukan TASLIM. Apakah taslim? Ia adalah berserah diri untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah hakikat Islam, yaitu mengikuti petunjuk Allah.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Keluarlah kalian (Adam dan Hawa) dari syurga, maka bilamana nanti datang petunjuk dari-Ku kepada kalian, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (Al Baqarah; 38).

Inilah jalan Islam, yaitu mengikuti petunjuk Allah, bukan membuat parameter kebenaran sendiri, sekalipun ia disebut sebagai DEMOKRASI, diputuskan dengan suara terbanyak.

KESIMPULAN

Dengan pembahasan ini, maka sangat jelas bahwa seruan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi adalah: Seruan kekafiran, sekafir-kafirnya manusia kepada Kitabullah dan Sunnah. Bahkan, seruan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu sebenarnya membahayakan semua agama, bukan hanya Islam. Dengan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, lama-lama eksistensi agama akan mati.

Tetapi karena di dunia ini yang memang sangat kokoh dalam memegang keyakinannya adalah Ummat Islam, maka slogan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dianggap sebagai ofensif untuk memerangi agama ini.

Namun Al Qur’an menjelaskan, “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka (dengan segala media yang mereka miliki), namun Allah berkehendak menyempurnakan cahaya agama-Nya, meskipun orang-orang kafir itu tidak menyukainya.” (As Shaaff).

Andaikan saat ini banyak orang mengelu-elukan Gus Dur, dan menyebutnya sebagai pahlawan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, pada dasarnya mereka tidak mengerti saja. Mereka hanya memandang ideologi Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dari kulitnya yang tampak manis.

Nanti pada ujungnya, ideologi Humanisme-Pluralisme-Demokrasi ini sepenuhnya merupakan slogan yang dikembangkan oleh Freemasonry. Mereka ingin membabat semua agama/ideologi di dunia dengan ketiga slogan itu. Lalu mereka nanti akan mengarahkan manusia untuk memuja Lucifer, sang iblis.

Jadi, media-media massa, ormas, tokoh-tokoh, anggota DPR, dan siapapun yang ngeyel ingin mentahbiskan Gus Dur sebagai pahlawan nasional, pada dasarnya mereka itu berada satu jalur ke arah tujuan penghambaan Lucifer. Hanya saja, mereka tidak tahu! Ya Allah, pimpin mereka ke arah kebenaran, pimpin ke arah taubat dan pengertian Islam. Allahumma amin ya Rahmaan ya Rahiim.

Senin, 04 Oktober 2010

Hukum Mengusap Wajah Setelah Berdo’a

وأما رفع النبى يديه فى الدعاء فقد جاء فيه أحاديث كثيرة صحيحه وأما مسحه وجهه بيديه فليس عنه فيه إلا حديث أو حديثان لا يقوم بهما حجة

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya ketika berdoa itu terdapat dalam banyak hadits yang shahih. Sedangkan mengusap wajah setelah berdoa maka tidak ada dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan satu atau dua hadits yang lemah sehingga keduanya tidak bisa dijadikan sebagai dalil” (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah juz 22 hal 519-cetakan standar).

Hadits yang lemah tentang hal ini adalah sebagai berikut:

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا رفع يديه في الدعاء لم يحطهما حتى يمسح بهما وجهه

Dari Umar bin al Khattab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, tidaklah menurunkannya kecuali beliau mengusapkannya terlebih dahulu ke mukanya” (HR Tirmidzi no 3386. Hadits ini dinilai sahih gharib oleh Tirmidzi namun dinilai lemah oleh al Albani dikarenakan salah seorang perawinya yang bernama Hammad bin ‘Isa adalah seorang perawi yang lemah. Lihat Irwa’ al Ghalil no 433).

عن محمد بن كعب القرظي حدثني عبد الله : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ” لا تستروا الجدر من نظر في كتاب أخيه بغير إذنه فإنما ينظر في النار سلوا الله [ عزوجل ] ببطون أكفكم ولا تسألوه بظهورها فإذا فرغتم فامسحوا بها وجوهكم ”

Dari Muhammad bin Ka’ab al Qurazhi, Abdullah bercerita kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menutupi tembok. Siapa saja yang melihat buku kawannya tanpa seizinnya maka sebenarnya dia hanyalah memandang api neraka. Berdoalah meminta kepada Allah dengan menggunakan bagian dalam telapak tangan kalian dan janganlah kalian menggunakan bagian luar telapak tangan. Jika kalian selesai berdoa maka usapkanlah tangan kalian ke wajah” (HR Abu Daud no 1485. Tentang hadits ini Abu Daud berkomentar, “Hadits ini memiliki beberapa jalur sanad dari Muhammad bin Kaab. Seluruh jalur sanadnya itu sangat lemah. Jalur sanad yang ini-yaitu hadits di atas- adalah sanad yang paling bagus namun derajatnya adalah lemah”).

Artikel www.ustadzaris.com

Hukum Makan dengan Tangan Kiri

Saat ini kami akan membahas adab makan yang lain yaitu adab makan dengan tangan kanan.

Dalam hadits yang muttafaqun ‘alaih,

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai anak, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah yang ada di hadapanmu." (HR. Bukhari no. 5376, Bab Membaca Basmalah ketika Makan dan Makan dengan Tangan Kanan; Muslim no. 2022, Bab Adab Makan-Minum dan Hukumnya)

Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat,

« إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ ».

"Jika seseorang di antara kalian makan, maka hendaknya dia makan dengan tangan kanannya. Jika minum maka hendaknya juga minum dengan tangan kanannya, karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya pula." (HR. Muslim no. 2020, Bab Adab Makan-Minum dan Hukumnya)

Dalam kitab yang sama disebutkan riwayat lainnya,

أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.

“Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah bersabda, ‘Makanlah dengan tangan kananmu!’ Dia malah menjawab, 'Aku tidak bisa.' Beliau bersabda, ‘Benarkah kamu tidak bisa?’ -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya.” (HR. Muslim no. 2021)

Dari beberapa hadits di atas, kita dapat menarik pelajaran bahwa terlarangnya makan dengan tangan kiri.

Kebanyakan ulama Syafi’iyah berpandangan bahwa hukum makan dengan tangan kanan hanyalah sunnah (dianjurkan). Demikianlah yang dipilih oleh Al Ghozali kemudian An Nawawi. Akan tetapi, ada pendapat tegas dari Imam Asy Syafi’i dalam kitab “Ar Risalah” dan di tempat lain dalam “Al Umm” yang menyatakan bahwa hukum makan dengan tangan kanan adalah wajib.[1]

Pendapat yang dikatakan oleh Imam Asy Syafi’i, itulah yang dinilai lebih kuat.

Penulis ‘Aunul Ma’bud, Al ‘Azhim Abadi memberikan penjelasan, “Pada hadits (urutan kedua seperti di atas, pen) secara tekstual menunjukkan perintah untuk makan dan minum dengan tangan kanan adalah wajib. Demikianlah pendapat sebagian ulama. Bahkan hal ini dikuatkan oleh riwayat Muslim, “Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah bersabda, ‘Makanlah dengan tangan kananmu!’ Dia malah menjawab, 'Aku tidak bisa.' Beliau bersabda, ‘Benarkah kamu tidak bisa?’ -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya.”[2]

Artinya jika dikatakan wajib, maka yang makan atau minum dengan tangan kiri dengan kesengajaan, berarti melakukan keharaman. Demikianlah yang lebih tepat karena ada penguat dalam riwayat Muslim yang menyatakan bahwa makan dengan tangan kanan menyerupai perbuatan setan. Inilah yang menjadi alasan wajibnya sebagaimana telah jelas dalam kaedah fiqhiyah. Wallahu a’lam.

Namun jika ada udzur (halangan) menggunakan tangan kanan kala itu, maka dimaafkan jika harus menggunakan tangan kiri. Ibnu Baththol menukil perkataan Ath Thobari, di mana beliau berkata, “Tidak boleh makan dan minum dengan tangan kiri kecuali bagi orang yang tangan kanannya dalam kesulitan untuk digunakan karena mesti melakukan hal lainnya seperti digunakan untuk mengambil, memberi, mengangkat, meletakkan atau membentangkan sesuatu.” Lalu Ath Thobari menyebutkan riwayat ‘Ali yang mendukung hal ini.[3] Ingat sekali lagi, dibolehkan dengan tangan kiri di sini ketika memang darurat, bukan karena malas.


Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.rumaysho.com
________________________________________

[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 9/522

[2] ‘Aunul Ma’bud, Al ‘Azhim Abadi, Abuth Thoyib, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan kedua, 1415 H, 10/179

[3] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, Asy Syamilah, 18/27.

Senin, 27 September 2010

Dzikir setelah sholat

Dzikir Setelah Shalat


Termasuk sunnah apabila seorang muslim setiap selesai shalat fardhu membaca:

¨ أَسْتَـغْـفِـرُ الله َ ( 3 kali ).

( Saya memohon ampun kepada Allah ) sebganyak 3 kali

¨ اَللَّــهُمَّ أَنْتَ السَّلامُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا اْلجَلالِ وَاْلإكْرَامِ

(Ya Allah Engkau Maha Sejahtera, dari-Mu kesejahteraan,Maha Berkah Engkau wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan ).

¨ لاَ إِلَهَ إِلا الله ُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالله.
¨ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ. لَهُ النِّعْمَةُ وَ لَهُ اْلفَضْلُ وَ لَهُ الثَّنَاءُ اْلحَسَنُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ مُخْلِصِـيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلكَافِرُوْنَ. اَللَّــهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا اْلجَدِّ مِنْكَ اْلجَدُّ.

(Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata , tiada sekutu bagi-Nya.Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan kita tidak menyembah kecuali kepada-Nya ,milik-Nya segala nikmat ,milik-Nya segala keutamaan dan milik-Nya segala sanjungan yang baik.Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dengan mengikhlaskan agama (ketundukan) untuk-Nya walaupun orang-orang kafir tidak suka.Ya Allah tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan ,tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi dan tidak bermanfaat buat orang yang memiliki kekayaan(dari siksaan-Mu) akan kekayaannya" .

Dibaca pula setelah shalat Subuh dan shalat Maghrib do'a seperti diatas dan ditambah pula dengan do'a ini :

¨ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ يُـحْيِيْ وَيُـمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. 10 × .
(Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata,tidak ada sekutu bagi-Nya,bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nyalah segala pujian,Dialah Dzat Yang Menghidupkan dan Mematikan,dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) .

Kemudian setelah itu membaca:
"سُبْحَانَ الله" 33x dan "اَلْـحَمْدُ ِلله" 33x dan" ُأَكْـَبرُ الله 33x, Kemudian disempurnakan yang keseratus dengan membaca :
¨ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
(Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata,tidak ada sekutu bagi-Nya,bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) .

Kemudian membaca ayat Kursi:
¨ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ اْلحَـيُّ اْلقَيُّوْمُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِـي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِـي اْلأرْض،ِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَـْينَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُـحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ ِبـمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأرْضَ وَلاَ يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ اْلعَلِيُّ اْلعَظِيْمُ.
(Allah,tidak ada Ilah (yang berhak disembah)kecuali Dia yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya ,tidak mengantuk dan tidak tidur .Kepunyaan-Nya apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi .Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa seizin-Nya?Allah Mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya .Kursi Allah meliputi langit dan bumi ,dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar ) .

Kemudian membaca:

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ dan قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ dan قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Dan ketiga surat di atas khusus untuk dibaca sesudah shalat Subuh dan shalat Maghrib serta di ulang-ulang tiga kali.

Inilah yang terbaik ….semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Postingan Populer

Pengikut

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *