Sabtu, 14 Juli 2012
Prof. Sofjan: Tradisi Perbedaan Awal Puasa Itu Laknat, Bukan Rahmat
Den Haag Perbedaan awal puasa antar negara adalah hal yang bisa difahami, walau pun tidak mesti terjadi pada masa sekarang yang serba canggih bahwa setelah konjungsi hilal sudah muncul di atas horizon setelah terbenam matahari.
Hal itu disampaikan staf pengajar pada Islamic University of Europa, Prof. Dr. Sofjan Siregar, MA kepada detikcom, Sabtu (14/7/2012).
"Namun jika perbedaan awal Ramadan di satu negara apalagi di kota yang sama seperti Jakarta bahkan di satu gang yang sama, maka itu bukan lagi rahmat, namun laknat bagi umat Islam di tanah air," ujar Sofjan.
Menurut Sofjan, perbedaan penetapan awal Ramadan sejak dulu bukan karena beda methode antara rukyah dan hisab, namun karena gengsi antara Muhammadiyah yang menerapkan methode horizon bebas dan Kemenag yang didominasi pemikiran horizon lokal.
"Karena methode apa pun yang dipakai jika masing-masing pihak memahami bahwa tujuan dari rukyah dan hisab adalah sama yaitu hilal, pasti bisa ketemu dan puasa bersama," tandas Sofjan.
Lanjut Sofjan, hakekat dan esensi perintah merukyah bukan ibadah dan tidak boleh disakralkan, tapi justru adalah untuk mengetahui apakah hilal sudah muncul atau belum. Jika kita sudah tahu hilal jauh sebelumnya, mengapa lajnatul isbath Kemenag dan ormas islam lainnya harus menunggu 29 Syaban setiap tahun untuk observasi hilal?
Jika hilal sudah diyakini pasti muncul, mungkin dilihat di tempat lain, namun tidak mungkin dilihat di Indonesia, mengapa Kemenag harus mengerahkan massa memantau hilal di beberapa titik di tanah air pada 29 Syaban?
"Artinya kenapa anggaran observasi dialokasikan dan dicairkan padahal sudah tahu haqqulyakin bahwa hilal untuk tahun ini pada tanggal tersebut tidak bisa dirukyah?Bukankah ini suatu pembodohan umat?," gugat Sofjan.
Dijelaskan, untuk tahun ini konjungsi matahari dan bulan terjadi pada Kamis 19 Juli 2012 pukul 04.24 UT, 07.24 waktu Mekkah. Kondisi hilal di Indonesia sulit dirukyah karena ketinggian hilal kurang dari 2 derajat, walau pun sebenarnya ketinggian hilal 1 derajat pun pernah bisa dirukyah pada 1971 di Indonesia.
Yang jelas, lanjut Sofjan, hilal sudah ada setelah matahari terbenam dan berumur lebih dari 8 jam setelah konjungsi. Kemungkinan dilihat di Mekkah ada selama sekitar 6 menit setelah matahari terbenam pada pukul 19.05 waktu setempat, lalu hilal tenggelam pada pukul 19.11.
Dalam pandangan Sofjan, hanya ada satu solusi yaitu bubarkan lajnatul isbat dan ganti dengan lajnatul falak. Artinya, tidak mesti kumpul dan kongko-kongko lagi di Kemenag pada setiap tanggal 29 Syaban, tapi tentukan jauh sebelumnya bahwa puasa jatuh pada hari sekian dan tanggal sekian.
Kemenag tahun ini harus berani menggunakan otoritasnya untuk mengumumkan awal puasa beberapa hari sebelum akhir Syaban dan menyiarkan puasa serentak pada 20 Juli 2012. Kemenag harus membuktikan bahwa Islam adalah rahmatan lilalamin bukan laknatan lilalamin.
"Adalah suatu kesalahan besar jika beberapa ormas Islam dan lajnatul isbath Kemenag masih bersikeras mempertahankan tradisi dan adat yang tidak ada kaitannya dengan ibadat. Merukyah sendiri, dengan melakukan methode horizon lokal, berarti mempersempit rahmat dan menyebar laknat terhadap umat Islam di tanah air," demikian Sofjan.
detik.com
Selasa, 01 Mei 2012
RULE ROBOT LINE TRACER ANALOG
RULE ROBOT LINE TRACER ANALOG
1. Deskripsi
Robot Line Tracer Analog adalah robot yang bergerak mengikuti garis.
2. Tingkat Kompetisi
SD/ Sederajat .
3. Tim
Satu Tim berkelompok, maksimal 3 orang.
4. Perlombaan
4.1. Tim Peserta harus membawa robot kitnya dalam keadaan sudah dirakit (sudah jadi).
4.2. Robot harus dapat bekerja secara otomatis dengan catudaya sendiri berbentuk baterai. Dilarang menggunakan catu daya dari bahan yang berbahaya.
4.3. Pengendalian secara langsung (manual) oleh peserta lomba tidak diperbolehkan, kecuali hanya untuk menghidupkan robot tersebut pada saat start. Robot harus dapat distart dengan 1(satu) kali tekan tombol.
4.4. Sistim pertandingan menggunakan system gugur dengan 3 kali pertandingan, 2 robot akan di pertandingkan, robot yang mencapai garis finish tercepat dinyatakan sebagai pemenang. Jika kedua robot tidak ada yang mencapai garis finish maka robot dengan jarak terdekat dengan dari garis finish dengan waktu tercepat yang akan dinyatakan sebagai pemenang
4.5. Selama robot berjalan, peserta tidak diperbolehkan menyentuh robot milik nya tanpa seijin Juri. Apabila dalam perjalanan nya robot keluar dari lintasan nya melebihi 5 (lima) detik, atau berhenti di dalam arena lebih dari 5 (lima) detik, maka Tim Juri berhak meminta tim peserta untuk mengeluarkan robot dari arena. Tim diberikan kesempatan melakukan “re-try” (start ulang).
4.6. Tim peserta yang tidak mematuhi aturan lomba, atau melakukan hal-hal yang dapat membahayakan peserta lain, ataupun robot yang digunakan telah merusak arena lomba, akan didiskualifikasikan.
4.7. Hal-hal yang belum ditentukan dalam aturan ini, akan ditentukan oleh Panitia pada saat technical meeting atau sebelum pertandingan dilaksanakan.
4.8. Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat.
5. Robot
5.1. Robot harus sudah dirakit dan siap untuk diperlombakan.
5.2. Ukuran Robot tidak melebihi 20cm x 15cm dan berat robot tidak melebihi 2 Kg.
5.3. Tegangan Maksimal adalah 12 Volt.
6. Arena Permainan.
6.1. Arena pertandingan adalah kombinasi 160cm x 120cm.
6.2. Warna garis bisa berwarna hitam di lantai putih atau garis putih di lantai hitam.
6.3. Lebar garis antara 1 – 2 cm.
6.4. Ketentuan dari labirin dan misi akan diumumkan pada hari perlombaan. Jalur mungkin memiliki garis-garis lurus, kurva, terowongan dan perbukitan.
7. Pemenang
7.1. Robot yang paling banyak melakukan misi dan waktu tercepat. (Terbaik dari 2 kali trial).
7.2. Jika tidak ada robot yang menyelesaikan seluruh misi, maka akan dibandingkan misi-misi yang telah dilakukan .
7.3. Jika ada peserta menyentuh robot mereka, peserta akan didiskualifikasi.
7.4. Garis lintasan harus dideteksi oleh sensor robot. Jika robot tidak dapat mendeteksi lintasan sampai 3 kali, peserta harus menyesuaikan sensor robotnya.
Selasa, 30 Agustus 2011
BAHAYA: Humanisme, Pluralisme, Demokrasi !!!
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Saudaraku, perjuangan rasanya tidak mengenal kata akhir, setiap waktu setiap masa, kita terus berhadapan dengan berbagai masalah. Ummat ini harus dipedulikan, dijaga, dihargai, diperjuangkan hak-haknya, dengan sekuat kemampuan yang kita miliki. Belum juga tuntas masalah Bank Century, kita sudah menghadapi masalah baru, “Gerakan Pemujaan Abdurrahman Wahid”. Kalau Bank Century berkaitan dengan harta benda, maka dalam masalah Gus Dur ini masalah AKIDAH. Ingat akidah, ini masalah terbesar Ummat ini!!!
Banyak orang mengelu-elukan Gus Dur sebagai tokoh: HUMANISME, PLURALISME, dan DEMOKRASI. Media-media massa sangat giat mencuci otak masyarakat dengan pujian-pujian berlebihan dalam 3 persoalan itu. Sampai 9 Fraksi DPR, termasuk partai-partai Islam, menyokong usulan agar Gus Dur diangkat menjadi pahlawan nasional.
Ini sangat bahaya, sangat berbahaya. Kalau sampai Pemerintah mengabulkan tuntutan anggota DPR itu, alamat bangsa kita akan diadzab oleh Allah dengan bencana-bencana memilukan di masa ke depan. Mengapa? Untuk tokoh yang penuh permusuhan kepada Islam, menghina Al Qur’an, pembela JIL, pro Israel, dll. itu ingin ditasbihkan sebagai “pahlawan nasional”. Sedangkan almarhum Buya Natsir, mantan Ketua DDII, yang jelas-jelas jasa-jasanya diakui Dunia Islam, sampai beliau mendapatkan Faishal Award dari Kerajaan Saudi, sampai wafatnya tidak pernah diakui sebagai pahlawan nasional. Baru beberapa waktu lalu, status kepahlawanan beliau diakui.
Begitu pula, almarhum Syafruddin Prawiranegara yang menjadi Gubernur BI pertama, pernah menyelamatkan Indonesia dengan menjadi Presiden Pemerintahan RI Darurat (PDRI), beliau sampai saat ini belum juga diakui sebagai pahlawan nasional. Jasa beliau besar, tapi tidak diakui oleh negara ini.
Saya yakin, jika Gus Dur sukses diangkat sebagai pahlawan nasional, itu artinya: Kita telah mengangkat manusia yang dimurkai Allah sebagai tokoh pujaan, idola nasional. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ini sama saja dengan menghalalkan kehancuran, bencana, dan segala siksaan atas bangsa ini.
Ya, kalau Anda tidak percaya, lalukan saja apa yang Anda inginkan! Mari kita lihat akibatnya nanti! Saya hanya mengingatkan, sebagaimana waktu mengingatkan agar masyarakat jangan memilih SBY-Boed. Kalau kelak Anda hidup menderita, maka jangan salahkan, selain diri sendiri.
Saudaraku… Gus Dur banyak dipuji-puji sebagai tokoh Humanisme, Pluralisme, Demokrasi. Sebenarnya istilah-istilah itu apa maksudnya? Apa maknanya, dan bagaimana konsekuensinya? Disini kita akan bahas tentang bahasa besar di balik kampanye slogan Humanisme, Pluralisme, Demokrasi.
KADAR PRAKTIS-FILOSOFIS
Secara sederhana humanisme bisa diartikan sebagai kemanusiaan, pluralisme sebagai paham keragaman, dan demokrasi sebagai “penentuan keputusan dengan suara terbanyak”.
Ketika bicara tentang isu Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, bisa dalam dua tataran. Pertama, tataran praktis, yaitu manfaat dari humanisme, pluralisme, demokrasi bagi kehidupan masyarakat. Kedua, dalam tataran filosofis, yaitu makna terdalam dari humanisme, pluralisme, demokrasi, serta pengaruhnya yang bersifat fundamental bagi keyakinan (ideologi) manusia.
Dalam tataran praktis, humanisme diamalkan misalnya dengan menyayangi orang sakit, memberi sedekah pengemis, menolong anak kecil yang jatuh, memberi bantuan sosial, mengirim Prita dengan koin-koin, menolong korban bencana alam, dsb. Jadi, tidak masalah disini, secara praktis.
Pluralisme secara praktis bisa diterjemahkan sebagai, menghargai perbedaan pendapat, mengakui keragaman potensi, kemampuan, mengakui perbedaan adat-kebiasaan, mengakui perbedaan perilaku hidup, dan lain-lain. Demokrasi diterjemahkan secara praktis, misalnya berunding dengan orang lain, bermusyawarah, melakukan undian penentuan sikap, pemilihan ketua kelompok, dan lain-lain.
Dalam tataran praktis, ya kita bisa memahaminya. Bahkan kita kerap memanfaatkan fungsi-fungsi humanitas, pluralitas, dan demokrasi itu. Ajaran Islam sangat mengakui tentang sikap tarhim (penyayang), fungsi syura (musyawarah untuk muakat), dan menghargai perbedaan pendapat fiqih (khilafiyyah).
Tetapi ketika paham Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dibawa ke tataran ideologis, konsep pemikiran, corak keyakinan, kita akan menyaksikan betapa bahayanya konsep Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu. Amat sangat berbahaya. Bahkan saya yakin, Anda tidak melihatnya sedemian serius masalah in.
Konsep Humanisme-Pluralisme-Demokrasi adalah merupakan ajaran agama tersendiri. Bahkan ia sangat agressif dalam menyirnakan peranan agama-agama tradisional, termasuk Islam di dalamnya. Kalau seseorang benar-benar tahu, ada apa di balik Slogan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, niscaya dia benar-benar akan melakukan TAUBAT NASHUHA. Sungguh, paham Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu sangat membahayakan semua agama, terutama Islam.
BAHAYA HUMANISME
Islam jelas-jelas mengajarkan sikap pengasih, penyayang, bahkan sekalipun kepada binatang. Nabi Saw mengatakan, “Irhamu man fil ardhi, yarhamukum man fis sama’i” (kasihi siapa yang ada di bumi, maka akan mengasihimu siapa yang ada di langit.”
Tetapi ideologi Humanisme itu berbeda. Ia bukan sifat-sifat pengasih, penyayang, seperti yang diajarkan Islam. Namun ia adalah suatu keyakinan untuk menjadikan manusia sebagai tujuan tertinggi kehidupan ini. Bukan matahari, bulan, batu, pohon, atau kuburan yang disembah-sembah disini, tetapi yang disembah adalah human interest (kepentingan manusia) itu sendiri. Humanisme itu suatu paham untuk mengagung-agungkan kepentingan manusia, mengalahkan kepentingan apapun yang lain.
Aplikasi dari paham ini, segala apa yang merugikan kebebasan, kepentingan, selera manusia, harus ditolak jauh-jauh. Termasuk hak Allah untuk mencampuri urusan manusia, juga harus ditolak. Maka Anda saksikan, para penganut humanisme sejati, mereka tidak mau menghukum anak-anaknya, memberi kebebasan penuh kepada anak-anaknya, sekalipun untuk memilih agama, memilih tindakan seks, memilih transaksi bisnis, dsb.
Apapun yang menjerat kebebasan manusia, termasuk aturan-aturan agama, harus disingkirkan sejauh-jauhnya. Inilah ideologi asli kaum Humanis. Maka dalam Al Qur’an dikatakan, “Afa ra’aita manit takhadza ilahahu hawaha” (apakah engkau Muhammad tahu, siapa yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya). Ini benar-benar nyata, dan disebutkan demikian dalam Al Qur’an.
Sri Mulyani dalam dialog dengan Wimar Witoelar di MetroTV pernah mengatakan, setelah dia pulang dari studi di Amerika, kurang-lebih dia mengatakan, “Kemudian saya kembali ke Indonesia, kemudian menemukan suatu kehidupan yang concern utama-nya adalah manusia itu sendiri.” Ucapan Sri Mulyani ini adalah contoh bagus pemikiran seorang Humanis.
Orang-orang Humanis akan sangat banyak mengecam aturan-aturan Islam. Jangankan aturan hudud, aturan memerintahkan anak-anak shalat saja mereka tentang habis-habisan. Sebab memang concern utama mereka adalah menjadikan hawa nafsu itu sebagai sesembahan.
BAHAYA PLURALISME
Tidak kalah bahayanya adalah ideologi Pluralisme. Allahu Akbar, ini benar-benar ideologi yang amat sangat menghujat ajaran Islam. Konsep pemikirannya seolah baik, tetapi sejatinya amat sangat merusak.
Pluralisme adalah ideologi yang meyakini kebenaran majemuk (plural). Mereka itu bukan sekedar mengakui ada banyak agama di dunia ini, lebih dari itu mereka meyakini, bahwa: kebenaran itu tidak tunggal, tapi majemuk. Dengan keyakinan ini mereka mengakui bahwa semua ideologi di dunia bisa diterima sebagai kebenaran, sesuai sudut pandang masing-masing.
Kalau kita katakan, 1 + 1 = 2. Maka orang pluralis, akan mengatakan: “Relatif. Bisa 2, 3, 7, 10, bahkan tak terhingga. Tergantung dari sudut mana memandangnya.” Maka antara pemikiran PLURALISME dan RELATIVISME adalah dua saudara kembar yang saling mencintai satu sama lain.
Di mata kaum Pluralis, mereka biasa mengatakan, “Islam itu benar, menurut orang Islam. Tetapi Kristen juga benar, menurut orang Kristen. Begitu pula, orang Yahudi, Hindu, Budha, Tao, Kong Fu Tse, Sinto, Pagan Mesir, Pagan Quraisy Makkah, Majusi, dsb. mereka benar sesuai pandangan masing-masing.” Yang paling parah, mereka meyakini, bahwa syurga itu diperuntukkan bagi siapa saja, dari keyakinan apapun, termasuk atheis, selama mereka hidup di dunia sebagai orang yang bak, tidak mengganggu orang lain.
Jadi, Pluralisme ini pada dasarnya adalah KEKAFIRAN lain, setara dengan kekafiran-kekafiran di luar Islam lainnya. Bahkan, Pluralisme adalah mbah-nya kekafiran.
Coba Anda renungkan: Paham semua konsep ideologi adalah benar, sesuai pandangan masing-masing pemeluknya. Hal ini kan sama saja dengan MENGHALALKAN segala bentuk kekafiran. Kekafiran Fir’aun, musyrikin Quraisy, Rumawi, Persia, dan sebagainya dianggap tidak ada. Masya Allah, ini adalah KEKAFIRAN sekafir-kafirnya, karena memandang di dunia ini tidak ada kebathilan, semua dianggap benar dan boleh.
Tapi lucunya, kaum Pluralis itu amat sangat marah dengan kaum Mukminin. Katanya, mereka mengakui kebenaran semua keyakinan, termasuk Islam, tetapi mereka marah ketika melihat Ummat Islam meyakini agamanya dengan sangat konsisten. Mereka bisa menerima keyakinan apapun lainnya yang dipeluk para penganutnya secara konsisten, tetapi mereka amat marah ketika melihat Ummat Islam konsisten dengan agamanya. Ini menandakan, bahwa tujuan utama kaum pluralis adalah: Memerangi Islam itu sendiri!!!
Bayangkan, bagaimana kita tidak akan mengkafirkan kaum Pluralis, wong semua penganut agama di dunia, termasuk kaum-kaum yang diadzab oleh Allah di masa Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth, Syuaib, Fir’aun, Abu Jahal, dsb sebagai orang yang benar. “Mereka adalah benar, sesuai pandangan mereka,” begitu logika kaum Pluralis.
Sebenarnya, pandangan Pluralisme itu adalah pandangan MANUSIA PALING DUNGU di dunia, paling dungu sejak jaman Nabi Adam As, sampai jaman Hari Kiamat nanti. Mengapa dikatakan demikian? Sebab mereka meyakini bahwa semua keyakinan adalah benar. Padahal antar keyakinan itu sendiri saling bertabrakan satu sama lain. Misalnya, kaum Yahudi menganggap dirinya sebagai kaum terpilih; kaum Nashrani menganggap Yahudi sebagai domba-domba yang sesat dari kalangan Bani Israil; sementara Ummat Islam meyakini Yahudi sebagai manusia terkutuk.
Begitu pula, Hindu menganggap sapi sebagai hewan suci, Islam menganggap sapi sebagai hewan ternak, para penyayang binatang membenci manusia yang membunuh binatang, sedangkan para Biksu Budha tidak makan daging, hidup sebagai vegetarian.
Lihatlah, antar keyakinan itu saling bertabrakan satu sama lain, mungkinkah semuanya dianggap benar? Masya Allah, betapa dungu sedungu-dungunya kaum Pluralis itu. Nanti, kalau ada seseorang yang tiba-tiba melempar batu ke arah penganut Pluralis itu, si pelempar bisa berargumen, “Melempar batu ke jidat Anda adalah kebenaran, dari sudut pandangan saya. Jadi mohon jangan salahkan ya!”
BAHAYA DEMOKRASI
Sebenarnya, masalah ini sudah sering dibahas di berbagai kesempatan. Saya hanya mengulang sedikit saja. Ideologi demokrasi adalah kekufuran juga. Mengapa? Paham ini meyakini sebuah prinsip, vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Artinya, peranan Tuhan dalam segala levelnya bisa diamputasi, diganti keputusan-keputusan yang diputuskan oleh manusia sendiri.
Peranan Allah Ta’ala dalam segala masalah bisa diamputasi, diganti segala putusan yang diperoleh melalui mekanisme demokrasi itu sendiri. Ini adalah ideologi kekafiran juga. Padahal sifat ajaran Islam adalah mengikuti petunjuk, bukan membuat petunjuk sendiri, atau trial and error.
Seseorang disebut MUSLIM karena dia melakukan TASLIM. Apakah taslim? Ia adalah berserah diri untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah hakikat Islam, yaitu mengikuti petunjuk Allah.
Dalam Al Qur’an disebutkan, “Keluarlah kalian (Adam dan Hawa) dari syurga, maka bilamana nanti datang petunjuk dari-Ku kepada kalian, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (Al Baqarah; 38).
Inilah jalan Islam, yaitu mengikuti petunjuk Allah, bukan membuat parameter kebenaran sendiri, sekalipun ia disebut sebagai DEMOKRASI, diputuskan dengan suara terbanyak.
KESIMPULAN
Dengan pembahasan ini, maka sangat jelas bahwa seruan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi adalah: Seruan kekafiran, sekafir-kafirnya manusia kepada Kitabullah dan Sunnah. Bahkan, seruan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu sebenarnya membahayakan semua agama, bukan hanya Islam. Dengan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, lama-lama eksistensi agama akan mati.
Tetapi karena di dunia ini yang memang sangat kokoh dalam memegang keyakinannya adalah Ummat Islam, maka slogan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dianggap sebagai ofensif untuk memerangi agama ini.
Namun Al Qur’an menjelaskan, “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka (dengan segala media yang mereka miliki), namun Allah berkehendak menyempurnakan cahaya agama-Nya, meskipun orang-orang kafir itu tidak menyukainya.” (As Shaaff).
Andaikan saat ini banyak orang mengelu-elukan Gus Dur, dan menyebutnya sebagai pahlawan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, pada dasarnya mereka tidak mengerti saja. Mereka hanya memandang ideologi Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dari kulitnya yang tampak manis.
Nanti pada ujungnya, ideologi Humanisme-Pluralisme-Demokrasi ini sepenuhnya merupakan slogan yang dikembangkan oleh Freemasonry. Mereka ingin membabat semua agama/ideologi di dunia dengan ketiga slogan itu. Lalu mereka nanti akan mengarahkan manusia untuk memuja Lucifer, sang iblis.
Jadi, media-media massa, ormas, tokoh-tokoh, anggota DPR, dan siapapun yang ngeyel ingin mentahbiskan Gus Dur sebagai pahlawan nasional, pada dasarnya mereka itu berada satu jalur ke arah tujuan penghambaan Lucifer. Hanya saja, mereka tidak tahu! Ya Allah, pimpin mereka ke arah kebenaran, pimpin ke arah taubat dan pengertian Islam. Allahumma amin ya Rahmaan ya Rahiim.
Saudaraku, perjuangan rasanya tidak mengenal kata akhir, setiap waktu setiap masa, kita terus berhadapan dengan berbagai masalah. Ummat ini harus dipedulikan, dijaga, dihargai, diperjuangkan hak-haknya, dengan sekuat kemampuan yang kita miliki. Belum juga tuntas masalah Bank Century, kita sudah menghadapi masalah baru, “Gerakan Pemujaan Abdurrahman Wahid”. Kalau Bank Century berkaitan dengan harta benda, maka dalam masalah Gus Dur ini masalah AKIDAH. Ingat akidah, ini masalah terbesar Ummat ini!!!
Banyak orang mengelu-elukan Gus Dur sebagai tokoh: HUMANISME, PLURALISME, dan DEMOKRASI. Media-media massa sangat giat mencuci otak masyarakat dengan pujian-pujian berlebihan dalam 3 persoalan itu. Sampai 9 Fraksi DPR, termasuk partai-partai Islam, menyokong usulan agar Gus Dur diangkat menjadi pahlawan nasional.
Ini sangat bahaya, sangat berbahaya. Kalau sampai Pemerintah mengabulkan tuntutan anggota DPR itu, alamat bangsa kita akan diadzab oleh Allah dengan bencana-bencana memilukan di masa ke depan. Mengapa? Untuk tokoh yang penuh permusuhan kepada Islam, menghina Al Qur’an, pembela JIL, pro Israel, dll. itu ingin ditasbihkan sebagai “pahlawan nasional”. Sedangkan almarhum Buya Natsir, mantan Ketua DDII, yang jelas-jelas jasa-jasanya diakui Dunia Islam, sampai beliau mendapatkan Faishal Award dari Kerajaan Saudi, sampai wafatnya tidak pernah diakui sebagai pahlawan nasional. Baru beberapa waktu lalu, status kepahlawanan beliau diakui.
Begitu pula, almarhum Syafruddin Prawiranegara yang menjadi Gubernur BI pertama, pernah menyelamatkan Indonesia dengan menjadi Presiden Pemerintahan RI Darurat (PDRI), beliau sampai saat ini belum juga diakui sebagai pahlawan nasional. Jasa beliau besar, tapi tidak diakui oleh negara ini.
Saya yakin, jika Gus Dur sukses diangkat sebagai pahlawan nasional, itu artinya: Kita telah mengangkat manusia yang dimurkai Allah sebagai tokoh pujaan, idola nasional. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ini sama saja dengan menghalalkan kehancuran, bencana, dan segala siksaan atas bangsa ini.
Ya, kalau Anda tidak percaya, lalukan saja apa yang Anda inginkan! Mari kita lihat akibatnya nanti! Saya hanya mengingatkan, sebagaimana waktu mengingatkan agar masyarakat jangan memilih SBY-Boed. Kalau kelak Anda hidup menderita, maka jangan salahkan, selain diri sendiri.
Saudaraku… Gus Dur banyak dipuji-puji sebagai tokoh Humanisme, Pluralisme, Demokrasi. Sebenarnya istilah-istilah itu apa maksudnya? Apa maknanya, dan bagaimana konsekuensinya? Disini kita akan bahas tentang bahasa besar di balik kampanye slogan Humanisme, Pluralisme, Demokrasi.
KADAR PRAKTIS-FILOSOFIS
Secara sederhana humanisme bisa diartikan sebagai kemanusiaan, pluralisme sebagai paham keragaman, dan demokrasi sebagai “penentuan keputusan dengan suara terbanyak”.
Ketika bicara tentang isu Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, bisa dalam dua tataran. Pertama, tataran praktis, yaitu manfaat dari humanisme, pluralisme, demokrasi bagi kehidupan masyarakat. Kedua, dalam tataran filosofis, yaitu makna terdalam dari humanisme, pluralisme, demokrasi, serta pengaruhnya yang bersifat fundamental bagi keyakinan (ideologi) manusia.
Dalam tataran praktis, humanisme diamalkan misalnya dengan menyayangi orang sakit, memberi sedekah pengemis, menolong anak kecil yang jatuh, memberi bantuan sosial, mengirim Prita dengan koin-koin, menolong korban bencana alam, dsb. Jadi, tidak masalah disini, secara praktis.
Pluralisme secara praktis bisa diterjemahkan sebagai, menghargai perbedaan pendapat, mengakui keragaman potensi, kemampuan, mengakui perbedaan adat-kebiasaan, mengakui perbedaan perilaku hidup, dan lain-lain. Demokrasi diterjemahkan secara praktis, misalnya berunding dengan orang lain, bermusyawarah, melakukan undian penentuan sikap, pemilihan ketua kelompok, dan lain-lain.
Dalam tataran praktis, ya kita bisa memahaminya. Bahkan kita kerap memanfaatkan fungsi-fungsi humanitas, pluralitas, dan demokrasi itu. Ajaran Islam sangat mengakui tentang sikap tarhim (penyayang), fungsi syura (musyawarah untuk muakat), dan menghargai perbedaan pendapat fiqih (khilafiyyah).
Tetapi ketika paham Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dibawa ke tataran ideologis, konsep pemikiran, corak keyakinan, kita akan menyaksikan betapa bahayanya konsep Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu. Amat sangat berbahaya. Bahkan saya yakin, Anda tidak melihatnya sedemian serius masalah in.
Konsep Humanisme-Pluralisme-Demokrasi adalah merupakan ajaran agama tersendiri. Bahkan ia sangat agressif dalam menyirnakan peranan agama-agama tradisional, termasuk Islam di dalamnya. Kalau seseorang benar-benar tahu, ada apa di balik Slogan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, niscaya dia benar-benar akan melakukan TAUBAT NASHUHA. Sungguh, paham Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu sangat membahayakan semua agama, terutama Islam.
BAHAYA HUMANISME
Islam jelas-jelas mengajarkan sikap pengasih, penyayang, bahkan sekalipun kepada binatang. Nabi Saw mengatakan, “Irhamu man fil ardhi, yarhamukum man fis sama’i” (kasihi siapa yang ada di bumi, maka akan mengasihimu siapa yang ada di langit.”
Tetapi ideologi Humanisme itu berbeda. Ia bukan sifat-sifat pengasih, penyayang, seperti yang diajarkan Islam. Namun ia adalah suatu keyakinan untuk menjadikan manusia sebagai tujuan tertinggi kehidupan ini. Bukan matahari, bulan, batu, pohon, atau kuburan yang disembah-sembah disini, tetapi yang disembah adalah human interest (kepentingan manusia) itu sendiri. Humanisme itu suatu paham untuk mengagung-agungkan kepentingan manusia, mengalahkan kepentingan apapun yang lain.
Aplikasi dari paham ini, segala apa yang merugikan kebebasan, kepentingan, selera manusia, harus ditolak jauh-jauh. Termasuk hak Allah untuk mencampuri urusan manusia, juga harus ditolak. Maka Anda saksikan, para penganut humanisme sejati, mereka tidak mau menghukum anak-anaknya, memberi kebebasan penuh kepada anak-anaknya, sekalipun untuk memilih agama, memilih tindakan seks, memilih transaksi bisnis, dsb.
Apapun yang menjerat kebebasan manusia, termasuk aturan-aturan agama, harus disingkirkan sejauh-jauhnya. Inilah ideologi asli kaum Humanis. Maka dalam Al Qur’an dikatakan, “Afa ra’aita manit takhadza ilahahu hawaha” (apakah engkau Muhammad tahu, siapa yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya). Ini benar-benar nyata, dan disebutkan demikian dalam Al Qur’an.
Sri Mulyani dalam dialog dengan Wimar Witoelar di MetroTV pernah mengatakan, setelah dia pulang dari studi di Amerika, kurang-lebih dia mengatakan, “Kemudian saya kembali ke Indonesia, kemudian menemukan suatu kehidupan yang concern utama-nya adalah manusia itu sendiri.” Ucapan Sri Mulyani ini adalah contoh bagus pemikiran seorang Humanis.
Orang-orang Humanis akan sangat banyak mengecam aturan-aturan Islam. Jangankan aturan hudud, aturan memerintahkan anak-anak shalat saja mereka tentang habis-habisan. Sebab memang concern utama mereka adalah menjadikan hawa nafsu itu sebagai sesembahan.
BAHAYA PLURALISME
Tidak kalah bahayanya adalah ideologi Pluralisme. Allahu Akbar, ini benar-benar ideologi yang amat sangat menghujat ajaran Islam. Konsep pemikirannya seolah baik, tetapi sejatinya amat sangat merusak.
Pluralisme adalah ideologi yang meyakini kebenaran majemuk (plural). Mereka itu bukan sekedar mengakui ada banyak agama di dunia ini, lebih dari itu mereka meyakini, bahwa: kebenaran itu tidak tunggal, tapi majemuk. Dengan keyakinan ini mereka mengakui bahwa semua ideologi di dunia bisa diterima sebagai kebenaran, sesuai sudut pandang masing-masing.
Kalau kita katakan, 1 + 1 = 2. Maka orang pluralis, akan mengatakan: “Relatif. Bisa 2, 3, 7, 10, bahkan tak terhingga. Tergantung dari sudut mana memandangnya.” Maka antara pemikiran PLURALISME dan RELATIVISME adalah dua saudara kembar yang saling mencintai satu sama lain.
Di mata kaum Pluralis, mereka biasa mengatakan, “Islam itu benar, menurut orang Islam. Tetapi Kristen juga benar, menurut orang Kristen. Begitu pula, orang Yahudi, Hindu, Budha, Tao, Kong Fu Tse, Sinto, Pagan Mesir, Pagan Quraisy Makkah, Majusi, dsb. mereka benar sesuai pandangan masing-masing.” Yang paling parah, mereka meyakini, bahwa syurga itu diperuntukkan bagi siapa saja, dari keyakinan apapun, termasuk atheis, selama mereka hidup di dunia sebagai orang yang bak, tidak mengganggu orang lain.
Jadi, Pluralisme ini pada dasarnya adalah KEKAFIRAN lain, setara dengan kekafiran-kekafiran di luar Islam lainnya. Bahkan, Pluralisme adalah mbah-nya kekafiran.
Coba Anda renungkan: Paham semua konsep ideologi adalah benar, sesuai pandangan masing-masing pemeluknya. Hal ini kan sama saja dengan MENGHALALKAN segala bentuk kekafiran. Kekafiran Fir’aun, musyrikin Quraisy, Rumawi, Persia, dan sebagainya dianggap tidak ada. Masya Allah, ini adalah KEKAFIRAN sekafir-kafirnya, karena memandang di dunia ini tidak ada kebathilan, semua dianggap benar dan boleh.
Tapi lucunya, kaum Pluralis itu amat sangat marah dengan kaum Mukminin. Katanya, mereka mengakui kebenaran semua keyakinan, termasuk Islam, tetapi mereka marah ketika melihat Ummat Islam meyakini agamanya dengan sangat konsisten. Mereka bisa menerima keyakinan apapun lainnya yang dipeluk para penganutnya secara konsisten, tetapi mereka amat marah ketika melihat Ummat Islam konsisten dengan agamanya. Ini menandakan, bahwa tujuan utama kaum pluralis adalah: Memerangi Islam itu sendiri!!!
Bayangkan, bagaimana kita tidak akan mengkafirkan kaum Pluralis, wong semua penganut agama di dunia, termasuk kaum-kaum yang diadzab oleh Allah di masa Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth, Syuaib, Fir’aun, Abu Jahal, dsb sebagai orang yang benar. “Mereka adalah benar, sesuai pandangan mereka,” begitu logika kaum Pluralis.
Sebenarnya, pandangan Pluralisme itu adalah pandangan MANUSIA PALING DUNGU di dunia, paling dungu sejak jaman Nabi Adam As, sampai jaman Hari Kiamat nanti. Mengapa dikatakan demikian? Sebab mereka meyakini bahwa semua keyakinan adalah benar. Padahal antar keyakinan itu sendiri saling bertabrakan satu sama lain. Misalnya, kaum Yahudi menganggap dirinya sebagai kaum terpilih; kaum Nashrani menganggap Yahudi sebagai domba-domba yang sesat dari kalangan Bani Israil; sementara Ummat Islam meyakini Yahudi sebagai manusia terkutuk.
Begitu pula, Hindu menganggap sapi sebagai hewan suci, Islam menganggap sapi sebagai hewan ternak, para penyayang binatang membenci manusia yang membunuh binatang, sedangkan para Biksu Budha tidak makan daging, hidup sebagai vegetarian.
Lihatlah, antar keyakinan itu saling bertabrakan satu sama lain, mungkinkah semuanya dianggap benar? Masya Allah, betapa dungu sedungu-dungunya kaum Pluralis itu. Nanti, kalau ada seseorang yang tiba-tiba melempar batu ke arah penganut Pluralis itu, si pelempar bisa berargumen, “Melempar batu ke jidat Anda adalah kebenaran, dari sudut pandangan saya. Jadi mohon jangan salahkan ya!”
BAHAYA DEMOKRASI
Sebenarnya, masalah ini sudah sering dibahas di berbagai kesempatan. Saya hanya mengulang sedikit saja. Ideologi demokrasi adalah kekufuran juga. Mengapa? Paham ini meyakini sebuah prinsip, vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Artinya, peranan Tuhan dalam segala levelnya bisa diamputasi, diganti keputusan-keputusan yang diputuskan oleh manusia sendiri.
Peranan Allah Ta’ala dalam segala masalah bisa diamputasi, diganti segala putusan yang diperoleh melalui mekanisme demokrasi itu sendiri. Ini adalah ideologi kekafiran juga. Padahal sifat ajaran Islam adalah mengikuti petunjuk, bukan membuat petunjuk sendiri, atau trial and error.
Seseorang disebut MUSLIM karena dia melakukan TASLIM. Apakah taslim? Ia adalah berserah diri untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah hakikat Islam, yaitu mengikuti petunjuk Allah.
Dalam Al Qur’an disebutkan, “Keluarlah kalian (Adam dan Hawa) dari syurga, maka bilamana nanti datang petunjuk dari-Ku kepada kalian, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (Al Baqarah; 38).
Inilah jalan Islam, yaitu mengikuti petunjuk Allah, bukan membuat parameter kebenaran sendiri, sekalipun ia disebut sebagai DEMOKRASI, diputuskan dengan suara terbanyak.
KESIMPULAN
Dengan pembahasan ini, maka sangat jelas bahwa seruan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi adalah: Seruan kekafiran, sekafir-kafirnya manusia kepada Kitabullah dan Sunnah. Bahkan, seruan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu sebenarnya membahayakan semua agama, bukan hanya Islam. Dengan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, lama-lama eksistensi agama akan mati.
Tetapi karena di dunia ini yang memang sangat kokoh dalam memegang keyakinannya adalah Ummat Islam, maka slogan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dianggap sebagai ofensif untuk memerangi agama ini.
Namun Al Qur’an menjelaskan, “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka (dengan segala media yang mereka miliki), namun Allah berkehendak menyempurnakan cahaya agama-Nya, meskipun orang-orang kafir itu tidak menyukainya.” (As Shaaff).
Andaikan saat ini banyak orang mengelu-elukan Gus Dur, dan menyebutnya sebagai pahlawan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, pada dasarnya mereka tidak mengerti saja. Mereka hanya memandang ideologi Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dari kulitnya yang tampak manis.
Nanti pada ujungnya, ideologi Humanisme-Pluralisme-Demokrasi ini sepenuhnya merupakan slogan yang dikembangkan oleh Freemasonry. Mereka ingin membabat semua agama/ideologi di dunia dengan ketiga slogan itu. Lalu mereka nanti akan mengarahkan manusia untuk memuja Lucifer, sang iblis.
Jadi, media-media massa, ormas, tokoh-tokoh, anggota DPR, dan siapapun yang ngeyel ingin mentahbiskan Gus Dur sebagai pahlawan nasional, pada dasarnya mereka itu berada satu jalur ke arah tujuan penghambaan Lucifer. Hanya saja, mereka tidak tahu! Ya Allah, pimpin mereka ke arah kebenaran, pimpin ke arah taubat dan pengertian Islam. Allahumma amin ya Rahmaan ya Rahiim.
Langganan:
Postingan (Atom)
Postingan Populer
-
A. Pendahuluan Guru tidak dapat bekerja secara efektif jika tidak dapat menilai secara akurat pencapaian siswanya. Menilai secara akurat s...
-
Sekarang sudah tidak aneh lagi melihat orang menenteng-nenteng kamera video di berbagai acara. Yup, perangkat ini tidak lagi didominasi oleh...