Selamat Hari Raya Idul Fitri
Taqobalallahu minnaa wa minkum
Shiyamanaa wa shiyamakum
Minal ‘aidin wal faizin
Mohon maaf lahir dan batin
Ucapan lebaran 1
Selamat Hari Raya Idul Fitri,
Semoga kita dapat menemukan jati diri
Memperoleh ampunan dan ridho Illahi
Dan kelak mendapat kenikmatan surgawi
Ucapan lebaran 2
Bila kata merangkai dusta…
Bila tingkah menoreh luka…
Bila hati penuh prasangka…
Mohon pintu maaf dibuka…
Ucapan lebaran 3
Waktu mengalir bagaikan air
Ramadhan suci akan berakhir
Tuk salah yg pernah ada
Tuk khilaf berbuah lara
Tuk dusta yg sempat terucap
Pintu maaf selalu kuharap
Ucapan lebaran 4
Satukan tangan, satukan hati
Itulah indahnya silaturahmi
Di hari kemenangan kita padukan
Keikhlasan untuk saling memaafkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Ucapan lebaran 5:
Terselip khilaf dalam candaku,
Tergores luka dalam tawaku,
Terbelit pilu dalam tingkahku,
Tersinggung rasa dalam bicaraku.
Hari kemenangan telah tiba,
Semoga diampuni salah dan dosa.
Mari bersama bersihkan diri,
sucikan hati di hari Fitri.
Ucapan lebaran 6:
Tiada gembira yang menggelora,
tiada senang yang mengangkasa,
selain kembali pada fitrah dan ampunan-Nya.
Selama Berhari Raya!
Ucapan 7:
Tangan diulur maaf dipinta,
Erat hubungan sesama kita,
Semoga senang dan gembira,
di Hari Raya yang mulia.
Ucapan lebaran 8:
Satu Syawal menjelang tiba,
Takbir bergema mengetarkan jiwa,
Sekiranya ada salah dan dosa,
Ampun dipinta dihari mulia.
Ucapan lebaran 9:
Andai jemari tak sempat berjabat,
Jika raga tak bisa bersua,
Untuk kata membekas luka,
Semoga pintu maaf masih terbuka.
Ucapan lebaran 10:
Menyambung kasih, merajut cinta,
beralas ikhlas, beratap doa.
Semasa hidup bersimbah khilaf,
berharap diri dibasuh maaf.
Ucapan lebaran 11:
Melati semerbak harum mewangi,
Sebagai penghias di Hari Fitri,
Pesan ini pengganti diri,
Ulurkan tangan silaturahmi.
Selamat Idul Fitri
Ucapan lebaran 12:
Duduk termenung di atas dipan
Dipan terbuat dari kayu jati
Senang diri bisa bermaafan
Leganya sampai ke lubuk hati
Ucapan lebaran 13:
Maaf, aku tidak pandai berpuisi
Jadi langsung saja ke yang inti
dengan tulus dan ikhlas dari sanubari
Saya mengucapkan selamat Idul Fitri
Ucapan lebaran 14:
Beli es di warung bu Rima.
Taruh di piring santap bersama.
SMS sudah saya terima,
teriring pula maksud yang sama.
Minal ‘Aidin wal Faizin..
Mohon maaf lahir batin..
Ucapan lebaran 15:
Tari zapin rentak Melayu
Rentak langkah hitung delapan
Hari Raya di ambang pintu
Silap salah mohon dimaafkan
Ucapan lebaran 16:
Sahur hanya tinggal kenangan,
berganti takbir fitri menjelang.
Aku datang ulurkan tangan,
memohon maaf semua kesalahan.
Ucapan lebaran 17:
Sepuluh jari tersusun rapi,
membawa harum bunga melati.
Niatku ini setulus hati,
memohon maaf di hari Fitri.
Ucapan lebaran 18:
Bulan Ramadhan telah berlalu
Hari Kemenangan telah datang
Mari bersihkan jiwa dan qalbu
Dari dosa yang bergelimang
Ucapan lebaran 19:
Ramadhan membasuh hati yang berjelaga
Saatnya meraih rahmat dan ampunan-Nya
Untuk lisan dan sikap yang tak terjaga
Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.
Ucapan lebaran 20:
Faith makes all things possible.
Hope makes all things work.
love makes all things beautiful.
May you have all of the three.
Happy Iedul Fitri
Terjemahannya secara bebas adalah:
Keimanan membuat segalanya mungkin
Harapan membuat segalanya berjalan
Cinta membuat segalanya indah
Semoga engkau memiliki ketiganya
Selamat Idul Fitri
Ucapan lebaran 21:
I met Iman, Taqwa, Patience, Peace, Joy, Love, Health & Wealth today.
They need a permanent place to stay.
I gave them your address.
Hope they arrived safely to celebrate Idul Fitri with you.
May Allah bless you and your family.
Artinya demikian:
Aku bertemu Iman, Taqwa, Sabar, Damai, Gembira, Cinta, Kaya, dan Sehat hari ini. Mereka memerlukan tempat tinggal yang tetap. Aku berikan alamat rumahmu. Semoga mereka sampai dengan selamat untuk merayakan Idul Fitri bersamamu.
Semoga Allah memberkahimu dan keluargamu.
Ucapan lebaran 22:
Let’s write all the mistakes down in the sand
And let the wind of forgiveness erase it away
Happy Idul Fitri!
Selasa, 30 Agustus 2011
Berbukalah Pada Tanggal 30 Agustus 2011 Wahai Ummat!!! Hilal Sudah Terlihat! Terimalah Kemurahan Rabb-mu!
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.
Tadi malam, Sidang Itsbat Departemen Agama RI sudah menyatakan, bahwa hari raya Idul Fithri jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011, atau bertepatan dengan hari Rabu. Penetapan Depag RI ini didukung nasehat MUI (KH. Ma’ruf Amin), pernyataan mayoritas ormas Islam, hasil perhitungan falaqiyyah para ahli hisab, hasil pantauan astronomi oleh beberapa pakar astronomi. Dengan demikian, tampaklah bahwa ketetapan Depag RI itu sangat kuat.
Ibadah Islami Berdasarkan Rukyatul Hilal (Melihat Bulan Sabit).
Tetapi kami justru menghimbau kaum Muslimin agar: “Segera membatalkan puasanya pada tanggal 30 September 2011, atau pada hari Selasa; kalau mau ikut Shalat Id pada hari Selasa, silakan; kalau mau ikut Shalat Id pada hari Rabu (seperti yang kami lakukan), silakan juga; pendek kata, batalkan puasa pada hari Selasa, tanggal 30 Agustus 2011.“
Bagaimana bisa kami berani menentang penetapan Depag RI soal kepastian Idul Fithri pada tanggal 31 Agustus 2011 itu, padahal kami ini bukan siapa-siapa dibandingkan mereka? Ilmu falaq ya segitu-gitunya, pengalaman melihat hilal tak pernah, pengalaman astronomi minim, ilmu fiqih juga minim. Kok berani-beraninya menentang ketetapan Depag RI yang sudah mapan itu? Onde mak oey… (meminjam istilah masyarakat Padang).
Berikut alasan-alasan yang bisa kami kemukakan:
[1]. Perlu sama-sama dipahami, bahwa urusan ibadah memiliki aturan berbeda dengan muamalah. Ibadah memiliki khashaish (kekhususan-kekhususan) yang merupakan hak prerogatif Allah dan Rasul-Nya. Dalam soal ibadah shaum, Haji, dan hari raya, Nabi Saw memerintahkan metode RUKYATUL HILAL (melihat awal bulan). Tidak masalah kita menjalankan ibadah berbeda dengan kalender, asalkan syarat-syarat ketentuan ibadah itu terpenuhi. Dalam urusan ibadah memakai Rukyatul Hilal, sedangkan dalam urusan muamalah memakai kalender (hasil hisab). Tidak mengapa semua ini.
[2]. Sudah ada pernyataan yang datang SEBELUM pengumuman Sidang Itsbat Depag RI, bahwa ada di antara kaum Muslimin di Jepara dan Cakung Jakarta sudah melihat hilal. Maka pengumuman ini harus diterima, selama yang bersangkutan mau bersumpah. Demikian kaidah aslinya. Apapun teori ilmu falaq, nasehat MUI, perhitungan ahli hisab ormas Islam, pantauan astronomi, dll. semua itu menjadi tidak berlaku, jika sudah ada kaum Muslimin yang mengaku telah melihat hilal. Inilah dasar aplikasi Syariat Islam aslinya, sebelum kaum ahli hisab/pakar astronomi menguasai wilayah ibadah ini. Hal itu sesuai sabda Nabi Saw.: “Shumuu li ru’yatihi wa ufthiruu li ru’yatihi” (shaumlah kalian dengan melihat hilal, dan berbukalah -saat awal Syawal- dengan melhatnya juga). [HR. Bukhari Muslim]. Untuk memastikan baca artikel voa-islam.com ini: Hilal Sudah Telrihat Senin Sore, Tapi Pemerintah Tetapkan 1 Syawal Hari Rabu.
[3]. Depag RI dan ormas-ormas Islam tertentu jelas TELAH MENOLAK KESAKSIAN beberapa Muslim yang telah melihat hilal. Padahal dalam riwayat diceritakan, ada seorang Shahabat datang kepada Nabi Saw dan mengaku telah melihat hilal. Lalu Nabi Saw meminta dia bersumpah, dia pun bersumpah. Maka kemudian Nabi Saw memerintahkan Bilal Ra mengumumkan, bahwa besok kaum Muslimin berpuasa. Lihatlah, cara ini sangat mudah, sangat mudah, sangat simple; sebelum akhirnya DIBUAT KERUH oleh para ahli hisab, para ahli falaqiyyah, para pakar astronomi, dan sebagainya. Padahal Nabi Saw bersabda: “Yassiruu wa laa tu’assiruu” (permudahlah, jangan dibuat susah).
[4]. Perlu diketahui bahwa metode penetapan melalui Sidang Itsbat Depag RI itu ternyata merupakan bentuk dari memaksakan metode hisab/falaqiyyah secara EKSTREM. Ini adalah bentuk kesesatan baru yang tidak sesuai Sunnah Nabi Saw. Mengapa dikatakan demikian? Sebab mereka jelas-jelas MENOLAK kesaksian beberapa orang Muslim di Cakung dan Jepara yang telah mengaku melihat hilal. Kata mereka, “Tidak mungkin hilal sudah terlihat! Menurut perhitungan kami dan pengamatan astronomi, seharusnya hilal belum terlihat.” Nah itu dia, mereka menolak kesaksian melihat hilal karena alasan perhitungan ilmu falaq dan pantauan astronomi. Padahal Nabi Saw tidak mempersyaratkan hal itu. Cukuplah kesaksian seorang Muslim yang mau disumpah, itu sudah cukup.
[5]. Kita harus memahami, bahwa Allah Ta’ala berkuasa atas segala kejadian di alam ini. Bisa jadi, sesuatu yang tidak mungkin secara ilmu falaq/astronomi, bisa menjadi mungkin menurut Allah Ta’ala. Apakah kita meragukan Kekuasaan Allah? Percayakah Anda, bahwa bisa saja Allah menampakkan hilal kepada sebagian hamba-Nya dan menutup hilal bagi sebagian yang lain? Hal itu sangat bisa terjadi dan sering terjadi. Tampaknya hilal adalah karunia Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Dan prediksi sains tidak selalu sesuai kenyataan. Banyak bukti-bukti di lapangan bahwa prediksi sains berbeda dengan kenyataan, misalnya prediksi cuaca, prediksi badai, prediksi gunung meletus, prediksi tsunami, prediksi janin dalam kandungan, prediksi usia harapan hidup pasien, prediksi penyakit dalam tubuh, prediksi hasil panen, prediksi pertumbuhan tanaman, prediksi kecepatan kendaraan, dll. Apakah di semua keadaan itu sains bisa memberikan hasil prediksi sempurna? Contoh kekeliruan informasi sains. BMKG pernah memprediksi ancaman tsunami di Sumatera telah berlalu, tetapi kemudian tsunami melanda Mentawai dan sekitarnya, ratusan orang meninggal disana. Sebaiknya Ummat Islam jangan memutlakkan hasil analisis sains, meskipun jangan pula menolaknya mentah-mentah.
[6]. Para ahli falaqiyyah/ahli hisab/pakar astronomi sering marah kalau mendengar ada seorang Muslim mengaku sudah melihat hilal. Mereka beralasan, “Tidak mungkin terlihat. Itu bohong semata! Berdasarkan perhitungan kami, hilal belum terlihat!” Orang-orang ini bersikap IRONIS, seolah hak dalam penentuan urusan din ini ada di tangan mereka sepenuhnya. Seolah, mereka berada dalam maqam ma’shum, yang tak tersentuh kesalahan. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Disini kita bisa buktikan, bahwa orang-orang itu bersikap TIDAK KONSISTEN dengan sikapnya. Pertama, kita bertanya ke mereka, “Mengapa Anda menolak kesaksian Muslim yang sudah melihat hilal?” Mereka jawab, “Berdasarkan perhitungan kami, dan diperkuat hasil pantauan astronomi, hilal tak mungkin terlihat. Bohong besar kalau ada yang mengaku sudah melihat.” Kedua, kita bertanya lagi, “Kalau hilal tak mungkin terlihat, lalu bagaimana solusinya?” Mereka jawab, “Ya, bulan Ramadhan kita istikmal-kan menjadi 30 hari. Mudah bukan!” Nah, disana itu bukti sikap TIDAK KONSISTEN mereka. Kalau mereka konsisten dengan metode Rukyatul Hilal dengan syarat-syarat seperti yang mereka tetapkan, belum tentu bisa melihat hilal pada tanggal 30 Ramadhan, tanggal 31, dan sebagainya. Bagaimana kalau langit tertutup mendung terus, darimana mereka akan bisa melihat hilal? Perlu diketahui, Observatorium Boscha itu berkali-kali gagal mengamati gerhana, komet, atau meteor gara-gara langit terhalang oleh mendung/awan. Metode istikmal (menggenapkan bulan menjadi 30 hari) adalah metode Sunnah, bukan berdasarkan teori-teori falaqiyyah/astronomi. Kalau mereka mau mengambil Sunnah dalam soal ISTIKMAL, mengapa mereka menolak Sunnah dalam kesaksian seorang Muslim bahwa dia sudah melihat hilal? Dimana sikap konsisten mereka?
[7]. Para pakar falaqiyyah/ahli hisab/astronomi menuduh bahwa kesaksian beberapa Muslim yang telah melihat hilal pada saat senja hari, 29 Agustus 2011, sebagai bentuk kebohongan. Masya Allah, padahal Nabi Saw hanya mempersyaratkan SUMPAH saja untuk memverifikasi kesaksian itu. Hal tersebut adalah bentuk kemudahan dalam Syariat. Lalu pertanyaannya, “Bagaimana kalau kesaksian beberapa orang yang mengaku melihat hilal itu benar-benar bohong?” Jawabnya sebagai berikut: (a). Kalau mereka dusta, dosanya ditanggung mereka sendiri di hadapan Allah; (b). Selama kita sudah berpuasa 29 hari, itu sudah mencukupi ketentuan puasa Ramadhan. Kecuali kalau puasa kita baru 28 hari, jelas harus disempurnakan. Jadi, hal semacam ini dibuat ringan saja: sejauh kita sudah puasa 29 hari dan ada kesaksian Muslim bahwa dirinya telah melihat hilal dan mau disumpah, itu sudah mencukupi. Anda tidak akan disebut maksiyat kepada Allah dan Rasul-Nya karena telah puasa 29 hari. Bahkan menurut riwayat Ibnu Mas’ud Ra, puasa Nabi Saw lebih banyak 29 hari, bukan 30 hari.
[8]. Sangat berbahaya kita berpuasa saat 1 Syawal atau saat jatuh hari raya Idul Fithri. Ini berbahaya, haram menurut Syariat Islam. Siapapun puasa di hari Idul Fithri, hal itu merupakan maksiyat serius kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam kaidah Sunnah, kalau ada dua pilihan yang sama-sama halalnya, kita dianjurkan memilih yang paling ringan. Misalnya, saat dalam safar, kita boleh Shalat secara sempurna, tapi boleh juga Shalat Qashar. Maka memilih yang lebih ringan (shalat qashar) itu lebih utama dan lebih sesuai Sunnah. Dalam hal ini, memilih shaum 29 hari lebih mudah dan lebih sesuai Sunnah Nabi Saw, daripada berpuasa 30 hari.
[9]. Andaikan perhitungan ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi dalam soal Rukyatul Hilal harus diterima sebagai KEPASTIAN, maka itu sama saja dengan membuang Sunnah Rukyatul Hilal itu sendiri. Kalau begitu caranya, ya sudah Anda tetapkan saja jadwal Ramadhan/Syawal secara abadi seperti “jadwal shalat abadi”. Jadi, tidak usah bertele-tele bicara Rukyatul Hilal. Karena percuma juga kaum Muslimin melakukan Rukyatul Hilal, kalau nanti tidak sesuai perhitungan ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi, maka Rukyatul Hilal itu tetap akan ditolak juga (seperti Sidang Itsbat Depag RI tanggal 29 Agustus 2011 itu). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa AROGANSI para pakar ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi berhasil membuang Sunnah Rukyatul Hilal dari kehidupan kaum Muslimin. Nah, inilah yang saya sebut sebagai sikap EKSTREM orang-orang itu.
[10]. Lalu bagaimana dengan nasehat agar kaum Muslimin lebih mengutamakan PERSATUAN daripada kesaksian Rukyatul Hilal? Bantahannya sebagai berikut: (a). Dalam Surat Ali Imran dikatakan, “Wa’tashimu bi hablillahi jami’an, wa laa tafarraquu.” Dalam ayat ini berpegang teguh kepada kebenaran DIDAHULUKAN dari persatuan. Hikmahnya, apa artinya bersatu kalau ingkar terhadap Syariat Islam?; (b). Ibnu Mas’ud menjelaskan pengertian Al Jamaah, “Ittifaqu bil haqqi walau kunta wahid” (sepakat dengan kebenaran walau engkau hanya seorang diri). Kita harus berpegang dengan kebenaran, meskipun seorang diri; (c). Dalam Sunnah disebutkan sabda Nabi Saw, “Innamat tha’atu fil ma’ruf” (bahwa ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf saja). Mengingkari kesaksian melihat hilal adalah maksiyat serius, harus ditolak, kita tak boleh mematuhinya; (d). Persatuan yang dikehendaki oleh Islam adalah persatuan yang Syar’i, bukan persatuan yang membuang kaidah Sunnah Rasululullah Saw; (e). Bersatu di atas kebathilan justru sangat dilarang dalam Islam, seperti disebut dalam Surat Al Maa’idah, “Wa laa ta’awanuu ‘alal itsmi wal ‘udwan” (jangan kalian bekerjasama di atas dosa dan permusuhan); (f). Para ulama, salah satunya Ibnu Utsaimin rahimahullah, mengatakan bahwa kalau ada Muslim yang melihat hilal, sementara Ulil Amri sudah menyatakan bahwa hari itu hari berpuasa, maka dia dipersilakan berbuka untuk dirinya sendiri dan tak mengumumkan hasil pantauan hilalnya. Mengapa orang itu tidak dilarang berbuka, malah disuruh berbuka di hari itu? Sebab HARAM berpuasa saat hilal sudah terlihat.
Demikian alasan-alasan yang bisa kami sebutkan. Sekali lagi, kami anjurkan kaum Muslimin untuk membatalkan puasa pada tanggal 30 Agustus 2011 (hari Selasa) ini, dengan keyakinan bahwa sudah masuk tanggal 1 Syawal. Tidak boleh kita puasa di hari 1 Syawal. Dalilnya, sudah ada kesaksian sebagian Muslim bahwa mereka sudah melihat hilal yang diperkuat dengan sumpah. Hasil Sidang Itsbat Depag RI tidak bisa menganulir hasil kesaksian tersebut, sebagaimana Nabi Saw tidak menolak kesaksian seperti itu. Kecuali, kalau Depag RI menempuh jalan selain Sunnah Rasulullah Saw. Dan tidak mengapa kita ikut Shalat Id pada hari Rabu besok, 31 Agustus 2011 sesuai keputusan Sidang Itsbat Depag RI.
Semoga pernyataan ini bisa bermanfaat dan ikut disebarkan di kalangan kaum Muslimin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam bisshawaab. Wastaghfirullaha li wa lakum.
http://abisyakir.wordpress.com
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.
Tadi malam, Sidang Itsbat Departemen Agama RI sudah menyatakan, bahwa hari raya Idul Fithri jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011, atau bertepatan dengan hari Rabu. Penetapan Depag RI ini didukung nasehat MUI (KH. Ma’ruf Amin), pernyataan mayoritas ormas Islam, hasil perhitungan falaqiyyah para ahli hisab, hasil pantauan astronomi oleh beberapa pakar astronomi. Dengan demikian, tampaklah bahwa ketetapan Depag RI itu sangat kuat.
Ibadah Islami Berdasarkan Rukyatul Hilal (Melihat Bulan Sabit).
Tetapi kami justru menghimbau kaum Muslimin agar: “Segera membatalkan puasanya pada tanggal 30 September 2011, atau pada hari Selasa; kalau mau ikut Shalat Id pada hari Selasa, silakan; kalau mau ikut Shalat Id pada hari Rabu (seperti yang kami lakukan), silakan juga; pendek kata, batalkan puasa pada hari Selasa, tanggal 30 Agustus 2011.“
Bagaimana bisa kami berani menentang penetapan Depag RI soal kepastian Idul Fithri pada tanggal 31 Agustus 2011 itu, padahal kami ini bukan siapa-siapa dibandingkan mereka? Ilmu falaq ya segitu-gitunya, pengalaman melihat hilal tak pernah, pengalaman astronomi minim, ilmu fiqih juga minim. Kok berani-beraninya menentang ketetapan Depag RI yang sudah mapan itu? Onde mak oey… (meminjam istilah masyarakat Padang).
Berikut alasan-alasan yang bisa kami kemukakan:
[1]. Perlu sama-sama dipahami, bahwa urusan ibadah memiliki aturan berbeda dengan muamalah. Ibadah memiliki khashaish (kekhususan-kekhususan) yang merupakan hak prerogatif Allah dan Rasul-Nya. Dalam soal ibadah shaum, Haji, dan hari raya, Nabi Saw memerintahkan metode RUKYATUL HILAL (melihat awal bulan). Tidak masalah kita menjalankan ibadah berbeda dengan kalender, asalkan syarat-syarat ketentuan ibadah itu terpenuhi. Dalam urusan ibadah memakai Rukyatul Hilal, sedangkan dalam urusan muamalah memakai kalender (hasil hisab). Tidak mengapa semua ini.
[2]. Sudah ada pernyataan yang datang SEBELUM pengumuman Sidang Itsbat Depag RI, bahwa ada di antara kaum Muslimin di Jepara dan Cakung Jakarta sudah melihat hilal. Maka pengumuman ini harus diterima, selama yang bersangkutan mau bersumpah. Demikian kaidah aslinya. Apapun teori ilmu falaq, nasehat MUI, perhitungan ahli hisab ormas Islam, pantauan astronomi, dll. semua itu menjadi tidak berlaku, jika sudah ada kaum Muslimin yang mengaku telah melihat hilal. Inilah dasar aplikasi Syariat Islam aslinya, sebelum kaum ahli hisab/pakar astronomi menguasai wilayah ibadah ini. Hal itu sesuai sabda Nabi Saw.: “Shumuu li ru’yatihi wa ufthiruu li ru’yatihi” (shaumlah kalian dengan melihat hilal, dan berbukalah -saat awal Syawal- dengan melhatnya juga). [HR. Bukhari Muslim]. Untuk memastikan baca artikel voa-islam.com ini: Hilal Sudah Telrihat Senin Sore, Tapi Pemerintah Tetapkan 1 Syawal Hari Rabu.
[3]. Depag RI dan ormas-ormas Islam tertentu jelas TELAH MENOLAK KESAKSIAN beberapa Muslim yang telah melihat hilal. Padahal dalam riwayat diceritakan, ada seorang Shahabat datang kepada Nabi Saw dan mengaku telah melihat hilal. Lalu Nabi Saw meminta dia bersumpah, dia pun bersumpah. Maka kemudian Nabi Saw memerintahkan Bilal Ra mengumumkan, bahwa besok kaum Muslimin berpuasa. Lihatlah, cara ini sangat mudah, sangat mudah, sangat simple; sebelum akhirnya DIBUAT KERUH oleh para ahli hisab, para ahli falaqiyyah, para pakar astronomi, dan sebagainya. Padahal Nabi Saw bersabda: “Yassiruu wa laa tu’assiruu” (permudahlah, jangan dibuat susah).
[4]. Perlu diketahui bahwa metode penetapan melalui Sidang Itsbat Depag RI itu ternyata merupakan bentuk dari memaksakan metode hisab/falaqiyyah secara EKSTREM. Ini adalah bentuk kesesatan baru yang tidak sesuai Sunnah Nabi Saw. Mengapa dikatakan demikian? Sebab mereka jelas-jelas MENOLAK kesaksian beberapa orang Muslim di Cakung dan Jepara yang telah mengaku melihat hilal. Kata mereka, “Tidak mungkin hilal sudah terlihat! Menurut perhitungan kami dan pengamatan astronomi, seharusnya hilal belum terlihat.” Nah itu dia, mereka menolak kesaksian melihat hilal karena alasan perhitungan ilmu falaq dan pantauan astronomi. Padahal Nabi Saw tidak mempersyaratkan hal itu. Cukuplah kesaksian seorang Muslim yang mau disumpah, itu sudah cukup.
[5]. Kita harus memahami, bahwa Allah Ta’ala berkuasa atas segala kejadian di alam ini. Bisa jadi, sesuatu yang tidak mungkin secara ilmu falaq/astronomi, bisa menjadi mungkin menurut Allah Ta’ala. Apakah kita meragukan Kekuasaan Allah? Percayakah Anda, bahwa bisa saja Allah menampakkan hilal kepada sebagian hamba-Nya dan menutup hilal bagi sebagian yang lain? Hal itu sangat bisa terjadi dan sering terjadi. Tampaknya hilal adalah karunia Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Dan prediksi sains tidak selalu sesuai kenyataan. Banyak bukti-bukti di lapangan bahwa prediksi sains berbeda dengan kenyataan, misalnya prediksi cuaca, prediksi badai, prediksi gunung meletus, prediksi tsunami, prediksi janin dalam kandungan, prediksi usia harapan hidup pasien, prediksi penyakit dalam tubuh, prediksi hasil panen, prediksi pertumbuhan tanaman, prediksi kecepatan kendaraan, dll. Apakah di semua keadaan itu sains bisa memberikan hasil prediksi sempurna? Contoh kekeliruan informasi sains. BMKG pernah memprediksi ancaman tsunami di Sumatera telah berlalu, tetapi kemudian tsunami melanda Mentawai dan sekitarnya, ratusan orang meninggal disana. Sebaiknya Ummat Islam jangan memutlakkan hasil analisis sains, meskipun jangan pula menolaknya mentah-mentah.
[6]. Para ahli falaqiyyah/ahli hisab/pakar astronomi sering marah kalau mendengar ada seorang Muslim mengaku sudah melihat hilal. Mereka beralasan, “Tidak mungkin terlihat. Itu bohong semata! Berdasarkan perhitungan kami, hilal belum terlihat!” Orang-orang ini bersikap IRONIS, seolah hak dalam penentuan urusan din ini ada di tangan mereka sepenuhnya. Seolah, mereka berada dalam maqam ma’shum, yang tak tersentuh kesalahan. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Disini kita bisa buktikan, bahwa orang-orang itu bersikap TIDAK KONSISTEN dengan sikapnya. Pertama, kita bertanya ke mereka, “Mengapa Anda menolak kesaksian Muslim yang sudah melihat hilal?” Mereka jawab, “Berdasarkan perhitungan kami, dan diperkuat hasil pantauan astronomi, hilal tak mungkin terlihat. Bohong besar kalau ada yang mengaku sudah melihat.” Kedua, kita bertanya lagi, “Kalau hilal tak mungkin terlihat, lalu bagaimana solusinya?” Mereka jawab, “Ya, bulan Ramadhan kita istikmal-kan menjadi 30 hari. Mudah bukan!” Nah, disana itu bukti sikap TIDAK KONSISTEN mereka. Kalau mereka konsisten dengan metode Rukyatul Hilal dengan syarat-syarat seperti yang mereka tetapkan, belum tentu bisa melihat hilal pada tanggal 30 Ramadhan, tanggal 31, dan sebagainya. Bagaimana kalau langit tertutup mendung terus, darimana mereka akan bisa melihat hilal? Perlu diketahui, Observatorium Boscha itu berkali-kali gagal mengamati gerhana, komet, atau meteor gara-gara langit terhalang oleh mendung/awan. Metode istikmal (menggenapkan bulan menjadi 30 hari) adalah metode Sunnah, bukan berdasarkan teori-teori falaqiyyah/astronomi. Kalau mereka mau mengambil Sunnah dalam soal ISTIKMAL, mengapa mereka menolak Sunnah dalam kesaksian seorang Muslim bahwa dia sudah melihat hilal? Dimana sikap konsisten mereka?
[7]. Para pakar falaqiyyah/ahli hisab/astronomi menuduh bahwa kesaksian beberapa Muslim yang telah melihat hilal pada saat senja hari, 29 Agustus 2011, sebagai bentuk kebohongan. Masya Allah, padahal Nabi Saw hanya mempersyaratkan SUMPAH saja untuk memverifikasi kesaksian itu. Hal tersebut adalah bentuk kemudahan dalam Syariat. Lalu pertanyaannya, “Bagaimana kalau kesaksian beberapa orang yang mengaku melihat hilal itu benar-benar bohong?” Jawabnya sebagai berikut: (a). Kalau mereka dusta, dosanya ditanggung mereka sendiri di hadapan Allah; (b). Selama kita sudah berpuasa 29 hari, itu sudah mencukupi ketentuan puasa Ramadhan. Kecuali kalau puasa kita baru 28 hari, jelas harus disempurnakan. Jadi, hal semacam ini dibuat ringan saja: sejauh kita sudah puasa 29 hari dan ada kesaksian Muslim bahwa dirinya telah melihat hilal dan mau disumpah, itu sudah mencukupi. Anda tidak akan disebut maksiyat kepada Allah dan Rasul-Nya karena telah puasa 29 hari. Bahkan menurut riwayat Ibnu Mas’ud Ra, puasa Nabi Saw lebih banyak 29 hari, bukan 30 hari.
[8]. Sangat berbahaya kita berpuasa saat 1 Syawal atau saat jatuh hari raya Idul Fithri. Ini berbahaya, haram menurut Syariat Islam. Siapapun puasa di hari Idul Fithri, hal itu merupakan maksiyat serius kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam kaidah Sunnah, kalau ada dua pilihan yang sama-sama halalnya, kita dianjurkan memilih yang paling ringan. Misalnya, saat dalam safar, kita boleh Shalat secara sempurna, tapi boleh juga Shalat Qashar. Maka memilih yang lebih ringan (shalat qashar) itu lebih utama dan lebih sesuai Sunnah. Dalam hal ini, memilih shaum 29 hari lebih mudah dan lebih sesuai Sunnah Nabi Saw, daripada berpuasa 30 hari.
[9]. Andaikan perhitungan ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi dalam soal Rukyatul Hilal harus diterima sebagai KEPASTIAN, maka itu sama saja dengan membuang Sunnah Rukyatul Hilal itu sendiri. Kalau begitu caranya, ya sudah Anda tetapkan saja jadwal Ramadhan/Syawal secara abadi seperti “jadwal shalat abadi”. Jadi, tidak usah bertele-tele bicara Rukyatul Hilal. Karena percuma juga kaum Muslimin melakukan Rukyatul Hilal, kalau nanti tidak sesuai perhitungan ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi, maka Rukyatul Hilal itu tetap akan ditolak juga (seperti Sidang Itsbat Depag RI tanggal 29 Agustus 2011 itu). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa AROGANSI para pakar ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi berhasil membuang Sunnah Rukyatul Hilal dari kehidupan kaum Muslimin. Nah, inilah yang saya sebut sebagai sikap EKSTREM orang-orang itu.
[10]. Lalu bagaimana dengan nasehat agar kaum Muslimin lebih mengutamakan PERSATUAN daripada kesaksian Rukyatul Hilal? Bantahannya sebagai berikut: (a). Dalam Surat Ali Imran dikatakan, “Wa’tashimu bi hablillahi jami’an, wa laa tafarraquu.” Dalam ayat ini berpegang teguh kepada kebenaran DIDAHULUKAN dari persatuan. Hikmahnya, apa artinya bersatu kalau ingkar terhadap Syariat Islam?; (b). Ibnu Mas’ud menjelaskan pengertian Al Jamaah, “Ittifaqu bil haqqi walau kunta wahid” (sepakat dengan kebenaran walau engkau hanya seorang diri). Kita harus berpegang dengan kebenaran, meskipun seorang diri; (c). Dalam Sunnah disebutkan sabda Nabi Saw, “Innamat tha’atu fil ma’ruf” (bahwa ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf saja). Mengingkari kesaksian melihat hilal adalah maksiyat serius, harus ditolak, kita tak boleh mematuhinya; (d). Persatuan yang dikehendaki oleh Islam adalah persatuan yang Syar’i, bukan persatuan yang membuang kaidah Sunnah Rasululullah Saw; (e). Bersatu di atas kebathilan justru sangat dilarang dalam Islam, seperti disebut dalam Surat Al Maa’idah, “Wa laa ta’awanuu ‘alal itsmi wal ‘udwan” (jangan kalian bekerjasama di atas dosa dan permusuhan); (f). Para ulama, salah satunya Ibnu Utsaimin rahimahullah, mengatakan bahwa kalau ada Muslim yang melihat hilal, sementara Ulil Amri sudah menyatakan bahwa hari itu hari berpuasa, maka dia dipersilakan berbuka untuk dirinya sendiri dan tak mengumumkan hasil pantauan hilalnya. Mengapa orang itu tidak dilarang berbuka, malah disuruh berbuka di hari itu? Sebab HARAM berpuasa saat hilal sudah terlihat.
Demikian alasan-alasan yang bisa kami sebutkan. Sekali lagi, kami anjurkan kaum Muslimin untuk membatalkan puasa pada tanggal 30 Agustus 2011 (hari Selasa) ini, dengan keyakinan bahwa sudah masuk tanggal 1 Syawal. Tidak boleh kita puasa di hari 1 Syawal. Dalilnya, sudah ada kesaksian sebagian Muslim bahwa mereka sudah melihat hilal yang diperkuat dengan sumpah. Hasil Sidang Itsbat Depag RI tidak bisa menganulir hasil kesaksian tersebut, sebagaimana Nabi Saw tidak menolak kesaksian seperti itu. Kecuali, kalau Depag RI menempuh jalan selain Sunnah Rasulullah Saw. Dan tidak mengapa kita ikut Shalat Id pada hari Rabu besok, 31 Agustus 2011 sesuai keputusan Sidang Itsbat Depag RI.
Semoga pernyataan ini bisa bermanfaat dan ikut disebarkan di kalangan kaum Muslimin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam bisshawaab. Wastaghfirullaha li wa lakum.
http://abisyakir.wordpress.com
Rabu, 16 Februari 2011
SOLUSI KEISENGAN
Abd Wasid mengisi pulsa ke No. HP nya, namun apa yang terjadi? belum 1 jam pulsa yang dia beli telah berkurang.
tanpa sengaja No HP nya telah berlangganan RBT.
Indosat (IM3, Mentari, Matrix, Starone)
Nama Layanan : i-ring
tarif : Rp. 6.050 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
ketik UNREG kirim ke 808
Telkomsel (As, Simpati, Halo)
Nama Layanan : Nada Sambung Pribadi
tarif As : Rp. 8.250 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
tarif Simpati : Rp. 9.075 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
tarif Halo : Rp. 9.075 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
ketik RINGOFF kirim ke 1212
XL (Xplor, Bebas, Jempol)
Nama Layanan : Nada Tungguku di pojok kanan pilih RBT Activation
tarif : Rp. 6.050 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
ketik UNSUB kirim ke 1818
Esia
Nama Layanan : Nada Sambung
tarif : Rp. 9.900 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
ketik RINGUNSUB kirim ke 8888
Three
Nama Layanan : RBT Three
tarif : Rp. 7.700 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
ketik RBTUNREG kirim ke 1212
Telkom Flexi
Nama Layanan : Flexitone
tarif : Rp. 8.800 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
ketik RINGOFF kirim ke 1212
Fren
Nama Layanan : ringgo / MRBT di pojok kiri pilih panduan lalu di bagian bawah pilih Fitur Layanan MRBT Fren Ringgo
tarif : Rp. 9.900 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
ketik RinggoHapus
Nama Operator : Telkomsel (Kartu As, SIMpati, Halo)
Layanan : NSP (Nada Sambung Pribadi)
Untuk berhenti dari layanan ini ketik RING OFF kirim ke 1212, bila sebelumnya anda mengaktifkan NSP dengan RING ON (Kode Lagu) namun bila anda mengaktifkan NSP dengan RING SUB (kode lagu), ketika RING UNSUB (kode Lagu) dan kirim ke 1212.
Operator XL (Kartu Bebas, Jempol dan Xplor)
Layanan : RBT (Ring Back Tone)
ketik UNSUB kirim ke 1818 untuk berhenti.
Indosat (Matrix, Starone, IM3 dan Mentari)
Layanan : i-ring
untuk stop ketik UNREG kirim ke 808
Operator Esia
Layanan : Nada Sambung
ketik RINGUNSUB kirim ke 8888
Operator 3 (Three )
Layanan : RBT Three
ketik RBTUNREG kirim ke 1212
Telkom Flexijavascript:void(0)
Layanan : Flexitone
ketik RINGOFF dan kirim ke 1212
tanpa sengaja No HP nya telah berlangganan RBT.
Indosat (IM3, Mentari, Matrix, Starone)
Nama Layanan : i-ring
tarif : Rp. 6.050 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
ketik UNREG kirim ke 808
Telkomsel (As, Simpati, Halo)
Nama Layanan : Nada Sambung Pribadi
tarif As : Rp. 8.250 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
tarif Simpati : Rp. 9.075 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
tarif Halo : Rp. 9.075 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
ketik RING
XL (Xplor, Bebas, Jempol)
Nama Layanan : Nada Tungguku di pojok kanan pilih RBT Activation
tarif : Rp. 6.050 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
ketik UNSUB kirim ke 1818
Esia
Nama Layanan : Nada Sambung
tarif : Rp. 9.900 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
ketik RING
Three
Nama Layanan : RBT Three
tarif : Rp. 7.700 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
ketik RBT
Telkom Flexi
Nama Layanan : Flexitone
tarif : Rp. 8.800 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
ketik RING
Fren
Nama Layanan : ringgo / MRBT di pojok kiri pilih panduan lalu di bagian bawah pilih Fitur Layanan MRBT Fren Ringgo
tarif : Rp. 9.900 per 30 hari (termasuk PPN 10%)
ketik Ringgo
Nama Operator : Telkomsel (Kartu As, SIMpati, Halo)
Layanan : NSP (Nada Sambung Pribadi)
Untuk berhenti dari layanan ini ketik RING OFF kirim ke 1212, bila sebelumnya anda mengaktifkan NSP dengan RING ON (Kode Lagu) namun bila anda mengaktifkan NSP dengan RING SUB (kode lagu), ketika RING UNSUB (kode Lagu) dan kirim ke 1212.
Operator XL (Kartu Bebas, Jempol dan Xplor)
Layanan : RBT (Ring Back Tone)
ketik UNSUB kirim ke 1818 untuk berhenti.
Indosat (Matrix, Starone, IM3 dan Mentari)
Layanan : i-ring
untuk stop ketik UNREG kirim ke 808
Operator Esia
Layanan : Nada Sambung
ketik RINGUNSUB kirim ke 8888
Operator 3 (Three )
Layanan : RBT Three
ketik RBTUNREG kirim ke 1212
Telkom Flexijavascript:void(0)
Layanan : Flexitone
ketik RINGOFF dan kirim ke 1212
Langganan:
Postingan (Atom)
Postingan Populer
-
A. Pendahuluan Guru tidak dapat bekerja secara efektif jika tidak dapat menilai secara akurat pencapaian siswanya. Menilai secara akurat s...
-
Sekarang sudah tidak aneh lagi melihat orang menenteng-nenteng kamera video di berbagai acara. Yup, perangkat ini tidak lagi didominasi oleh...